Foto: Michael Sitorus, Bos ODGJ di Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba
TOBA, SUMUT || Sangkakala7.tv
Guna mengetahui keberadaan Yayasan Rehablitasi Adiksi Toba Sehat, Wartawan Media Sangkakala 7, Tohap Simaremare mengunjungi pelopor pendiri Pusat Rehabilitasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (OGDJ), Michael Sitorus, pada hari Senin 17 Juni 2024.
Sangkakala 7 saat bertemu dengan Michael Sitorus, dalam perbincangan dirinya menyebut Bos Orang Gila.
“Panggil aku Bos orang gila”, ujar Michael Sitorus, sambil tersenyum simpul.
Michael Sitorus Pria berusia 33 tahun menjelaskan awal mulanya berdirinya Yayasan Adiksi Toba Sehat. Yayasan Rehablitasi Adiksi Toba Sehat merupakan pelopor berdirinya Pusat Rehabilitasi pertama bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (OGDJ), Pecandu narkoba dan para Lansia terlantar di Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara.
Ia bersama istrinya Yunika Simanjuntak (29), mendirikan Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba Sehat yang berlokasi di Desa Lumban Rang, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara.
Tepatnya pada bulan Maret 2020 silam, Michael mulai mewujudkan impiannya untuk bisa tinggal di tengah-tengah warga yang membutuhkan perhatian lebih, seperti orang terlantar, Orang Dengan Gangguan Jiwa (OGDJ), Pecandu Narkoba dan Para Lansia Terlantar yang tidak memiliki keluarganya.
Di tengah-tengah kesibukannya, Michael yang ditemui Sangkakala7, Senin (17/06/2024) menceritakan bagaimana awalnya dia membangun Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba Sehat hingga bisa berdiri seperti sekarang ini.
Dia memberanikan diri membangun bangunan dengan menggunakan uang sendiri, di atas lahan seluas 2.600 Meter yang telah dia beli dari kerabatnya, dengan modal pas-pasan, Michael telah mendirikan 10 ruangan sebagai tempat tinggal pasien dengan daya tampung maksimal 60 orang.
Keinginan Michael untuk mendirikan pusat rehabilitasi ini diawali sejak kunjungan pertamanya ke pusat rehabilitasi LIDO di Bogor.
Waktu itu sekitar tahun 2018 awal, setelah keberangkatannya ke LIDO dari perkumpulan pemuda salah satu Gereja di Siantar, ia pun berencana mendirikan pusat rehabilitasi sendiri.
“Saat itu saya merasa miris, di Panti Rehab kota besar sekelas LIDO penghuninya banyak orang Batak yang berasal dari Tapanuli Raya.
Pertama Melihat mereka orang Batak menjadi korban narkoba, Sejak saat itu saya semakin bergumul dengan diri saya sendiri dan mulailah ada niat yang akhirnya berubah menjadi impian untuk mendirikan panti rehab di Kawasan Danau Toba, khususnya di Kabupaten Toba,” ujar Michael.
Latar belakang Michael sebelumnya pernah menjadi ASN di BNN Bogor, Michael menang PNS pada 2012 lalu dan sempat mengabdi selama 4 tahun.
Pada tahun 2017 Ia memilih mengundurkan diri sebagai ASN dan kembali ke kampungnya di Siantar, tak mau berlama-lama jadi pengangguran, ia pun memilih bekerja di salah satu panti rehabilitasi.
Michael bertemu istrinya yang juga bekerja sebagai perawat di panti rehabilitasi yang sama.
Mereka berdua belajar banyak dan semakin mencintai pekerjaannya, hingga tiba saatnya mereka memutuskan mengundurkan diri untuk mendirikan Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba Sehat ini.
Diakuinya, di saat memutuskan membangun impiannya ini, mereka mendapatkan penolakan keras dari kedua orang tuanya.
Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, ayah Michael telah menggantungkan harapan besar kepadanya.
Bapaknya bahkan telah merencanakan usaha untuk dia kelola.
Usaha sawit adalah pekerjaan baru yang telah disiapkan kedua orang tuanya, modal usaha telah disiapkan, sementara Michael hanya tinggal menjalankan saja, namun Michael memutuskan untuk menolak tawaran empuk bapaknya, dia memilih untuk tetap mendirikan sendiri pusat rehabilitasi yang telah lama diimpikannya, sebutnya.
Lanjut, “Sebagai orang tua wajar bapak saya kecewa berat dengan keputusan besar yang saya ambil, saya mendirikan semuanya ini tanpa ada bantuan dari orang tua, murni dari uang yang saya tabung selama saya dan istri bekerja,” paparnya.
Hingga kini orang tuanya belum bisa menerima sepenuhnya keputusan Michael, meski demikian Michael tak putus asa dan dia yakin suatu saat nanti apa yang dia kerjakan ini akan mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
“Jadi, setiap orang bertanya kepada bapak apa sebenarnya pekerjaan anak sulungnya, dia selalu menjawab, Anak saya Bos Gila.
Sebagai anak yang telah mengecewakannya saya tidak pernah marah atau kecewa, saya hanya bisa berdoa agar suatu hari Bapak saya bangga setiap kali dia menyebut saya sebagai bos gila,” tuturnya.
Selama satu setengah tahun lebih beroperasi, Panti Rehabilitasi Adiksi Toba telah dihuni 50 orang di antaranya; pasien narkoba sebanyak 12 orang semuanya laki-laki, ODGJ sebanyak 32 orang terdiri dari 10 Perempuan dan 22 Laki-laki, Jompo terlantar sebanyak 6 orang terdiri dari 1 Perempuan dan 5 Laki-laki.
Hingga memasuki dua bulan pertama setelah panti rehabilitasi selesai di bangun, belum ada seorang pun yang datang ke tempat ini.
Tak putus asa, Michael turun langsung turun ke jalan, dia memungut ODGJ yang ada di sekitar Kabupaten Toba, lalu dia bersihkan dan menjadi penghuni pertama pusat rehabilitasi ini.
Meski promosi yang dilakukan hanya lewat media sosial dan dari mulut ke mulut, seiring dengan bertambahnya waktu, Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba Sehat semakin diketahui banyak orang.
“Di bulan ketiga mulailah ada yang datang membawa keluarganya untuk direhab di sini.
Dan semakin hari semakin bertambah banyak dan kami percaya jalan Tuhan semakin terang.
Kerinduan kami untuk menjadikan tempat ini menjadi saluran berkat bagi mereka pasti akan dikabulkan
Tuhan,” imbuhnya.
Meskipun masih dalam keterbatasan, Michael tidak mematok seberapa besar biaya yang dibebankan kepada setiap keluarga penghuni Pusat Rehabilitasi Adiksi Toba Sehat ini, mereka menerima seiklas pemberian pihak keluarga.
Untuk mampu bertahan, pihaknya pun melakukan subsidi silang dari pemberian keluarga korban narkoba untuk membantu orang yang sama sekali tidak memiliki keluarga.
Jurnalis : Tohap Simaremare
Redaktur : Priyatna








