🔥KESOMBONGAN🔥

- Redaktur

Senin, 3 April 2023 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA || Sangkakala7.tv
Mimbar Agama Kristen :
Kalau kita mencari Tuhan hanya pada waktu kita membutuhkan pertolongan-Nya adalah kesombongan.
Hal itu sudah menjadi irama hidup banyak orang beragama.

Kalau di dalam agama-agama suku, dan kepercayaan-kepercayaan di luar agama samawi khususnya, orang datang ke tempat keramat pohon atau batu yang dianggap keramat atau tempat keramat lainnya karena membutuhkan sesuatu. Biasanya juga membawa korban tertentu, di situlah terjadi transaksional.

Sejatinya, hubungan kita dengan Allah tidak boleh dalam mekanisme transaksional. Kita harus mengenal benar siapa yang kita sembah. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan manusia, dan menghendaki kita ini ada. Ia tidak membutuhkan apa-apa sebenarnya, dan bisa tidak membutuhkan siapa-siapa.

Dengan menciptakan manusia, sebenarnya Allah masuk dalam satu “resiko.” Sebab manusia yang diciptakan memiliki kehendak bebas; free will. Dalam istilah Latin, liberum arbitrium_.

Manusia diberi pikiran dan perasaan, seperti komponen yang ada pada diri Allah, pasti makhluk kekal. Binatang mau secerdas apa pun, tidak memiliki komponen seperti yang manusia miliki. Karenanya, ketika binatang mati, maka ia diakhiri.

Dengan pikiran dan perasaan, maka manusia dapat menciptakan kehendak.
“Kehendak” bukanlah Allah yang mengatur (mendesain), melainkan manusia itu sendiri yang menciptakan kehendak.

*Allah tidak menciptakan kejahatan. Tetapi manusia memiliki pikiran dan perasaan sehingga dapat memproduksi kehendak yang positif atau negatif; menyukakan Allah atau menyakiti hati-Nya*.

Manusia sebagai makhluk yang dipercayai Tuhan memiliki pikiran dan perasaan adalah makhluk yang berisiko tinggi, karena apa yang kita tabur akan kita tuai.

Tuaian itu bukan hanya sementara kita ada di dunia. Tetapi sampai di keabadian. Banyak orang tidak berpikir dari perspektif kekekalan. Inilah cara kuasa kegelapan menyesatkan manusia.

Kalau kita makhluk kekal, karena memiliki pikiran dan perasaan yang bisa menciptakan kehendak, maka kita harus berpikir dengan perspektif kekekalan.

Sejujurnya, banyak di antara kita yang belum memiliki perspektif kekekalan, karena mewarisi apa yang orangtua lakukan; apa yang nenek moyang kita lakukan. Kita melihat model dari kehidupan, gaya dari kehidupan manusia yang perspektifnya kefanaan. Tentu tidak semua keluarga demikian, tetapi pada umumnya demikianlah orang-orang Kristen, mereka yang rajin ke gereja, aktivis, dan yang menyedihkan, bahkan pendeta.

Seseorang bisa ambil bagian dalam pelayanan gereja sebagai rohaniwan atau pendeta, tetapi tidak memiliki cara pandang kekekalan. Sehingga pelayanannya pasti hanya berorientasi pada hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan itu penyesatan.

Ketika jemaat datang ke gereja dan merasa bahwa gerejalah sebagai agen Tuhan yang bisa memberikan nasihat dan tuntunan guna menjalani hidup, lalu gereja hanya memberikan khotbah-khotbah yang tidak membuka wawasan untuk menembus batas, gereja hanya bicara mengenai berkat jasmani, pertolongan Tuhan sekitar masalah-masalah fana, maka jemaat telah terkungkung, terbelenggu oleh pola berpikir yang salah.

Bahkan kita yang sering berbicara mengenai langit baru dan bumi baru, belum tentu sudah keluar dari cara berpikir yang salah; belum tentu sudah menembus batas. Belum tentu sudah terbang seperti rajawali.

Banyak orang berurusan dengan Tuhan hanya pada waktu memiliki masalah-masalah berat. Atau berurusan dengan intensif, hanya pada waktu punya masalah, lalu transaksional.

Mereka datang ke gereja, memuji dan menyembah Tuhan, supaya Tuhan berkati.

Mereka memberikan persembahan dan berharap Tuhan gantikan lipat kali ganda.

Dia adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Yang menciptakan manusia dengan divine purpose; ada tujuan ilahi. Tujuan ilahi ini pasti berelasi dengan kekekalan.

Mari kita lepas landas untuk membuka pikiran, agar tidak terkungkung dengan cara berpikir manusia di sekitar kita yang wawasannya hanya sebatas kubur, tetapi tidak sungguh-sungguh melihat _beyond the grave, after the grave_.

Sudah terlalu lama kita hidup dengan pola berpikir, filosofi dan prinsip-prinsip hidup manusia yang orientasinya pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan itu yang dipandang wajar. Mendengar khotbah, puji-pujian yang selalu bertemakan mengenai kekekalan, mengenai langit baru bumi baru, mengenai surga, mengenai Yerusalem Baru, hanya sadar sesaat waktu di gereja.

Tetapi ketika kembali ke rumah, ke tengah-tengah pergaulan, ke tengah-tengah pekerjaan, kita terkontaminasi lagi, terpapar lagi oleh pola pikir dunia. Kita kembali menjalani hidup tanpa takut akan Allah. Padahal, kita tidak tahu di mana ujung akhir hidup kita.

Kita harus sungguh-sungguh berkemas-kemas. Ingat, ibarat penumpang pesawat, kita sudah pegang _boarding pass_.

Jangan menunggu, jangan menanti, jangan berharap itu di-delay, apalagi di-cancel. Tidak ada _cancellation_, tidak ada _delay_, tidak ada. Kalau Tuhan sudah menentukan, “Kita tidak bisa memperpanjang walaupun sehasta untuk umur hidup kita,” kata Tuhan Yesus.

Maka, jangan tidak berubah. Jangan hanyut dengan kehidupan yang hanya berpikir dalam orientasi masalah-masalah fana.

Jangan sombong. Walaupun hari ini kita sehat, banyak uang, punya relasi, namun suatu saat kita harus berhenti dari kehidupan di bumi ini. (**)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bupati Donggala Buka STQ Ke- X Tingkat Kecamatan, Desa Surumana, Kec. Banawa Selatan
Hadiri Perayaan HUT ke-49 HKBP Pandan Kota, Bupati Tapteng Ulosi Puluhan Jemaat Lansia
Kadisporapar Ikuti Sholat Istisqa Berjamaah di Masjid Agung Darunnajah Putussibau
Kades Tanamea Hery Daud Widu Dampingi Camat Banawa Selatan, Menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW, 1448 H/ 2026 M
*Binroh Nasional Polri, Dai Kamtibmas Polres Parimo Aiptu Zulham Ditunjuk Jadi Penceramah*
TNI-POLRI Sinergi Berkolaborasi dalam Pengamanan Penutupan STQH Ke-XVII Tingkat Kecamatan Dampelas Desa Malonas
STQ ke-XVII Tingkat Kecamatan Dampelas Tahun 2025, Resmi Dibuka Bupati Donggala, Vera Elena Laruni SE
Bupati Humbahas Letakkan Batu Pertama Pembangunan GBI Jemaat Hutapaung
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 08:04 WIB

Bupati Donggala Buka STQ Ke- X Tingkat Kecamatan, Desa Surumana, Kec. Banawa Selatan

Minggu, 6 September 2026 - 20:24 WIB

Hadiri Perayaan HUT ke-49 HKBP Pandan Kota, Bupati Tapteng Ulosi Puluhan Jemaat Lansia

Kamis, 3 September 2026 - 19:24 WIB

Kadisporapar Ikuti Sholat Istisqa Berjamaah di Masjid Agung Darunnajah Putussibau

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Kades Tanamea Hery Daud Widu Dampingi Camat Banawa Selatan, Menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW, 1448 H/ 2026 M

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:25 WIB

*Binroh Nasional Polri, Dai Kamtibmas Polres Parimo Aiptu Zulham Ditunjuk Jadi Penceramah*

Berita Terbaru

Lingkungan Hidup

Sudah Diberitakan, Kebersihan Masjid Raya Bogor Tak Kunjung Berubah

Minggu, 6 Sep 2026 - 16:38 WIB