KARAKTER KRISTUS

- Redaktur

Selasa, 9 Maret 2021 - 07:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harus menjadi manusia seperti apakah aku ini menurut Tuhan ?

KOTA BEKASI | Sangkakala.tv-
Betapa beruntungnya kita menjadi orang percaya yang memiliki meterai Roh Kudus (Ef. 1:13). Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran, artinya Roh Kudus membuat setiap orang menemukan dirinya sendiri dan bagaimana harus bersikap terhadap Tuhan, terhadap manusia di sekitarnya, terhadap lingkungan alam yang ada di sekitarnya, dengan ketepatan yang sesuai dengan kehendak Allah Bapa.

Untuk mencapai kehidupan sebagai anak-anak Allah yang memiliki kepribadian agung dengan karakter yang mulia ini, seseorang harus terus belajar melalui proses yang panjang.

Di sini, tidak cukup seseorang mendengar khotbah, mengikuti seminar atau ceramah, atau membaca buku. Kita membutuhkan mentor melalui ceramah, khotbah, seminar, buku. Tetapi pada akhirnya, setiap individu yang memang unik dan tidak ada duanya itu harus memiliki perjumpaan dengan Tuhan setiap hari secara pribadi.
Inilah yang harus dialami setiap orang percaya.

Banyak orang Kristen merasa cukup hanya dengan mendengar khotbah, membaca buku, mengikuti seminar mengenai character building, bahkan mungkin mengikuti pembinaan berseri mengenai character building selama beberapa bulan.

Merasa bahwa dia sudah memiliki karakter yang baik, hal ini tidak mungkin cukup.
Sebab, untuk menemukan diri kita menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Allah, membutuhkan waktu sepanjang perjalanan waktu hidup kita ini.

Apakah itu 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun, atau 80 tahun. Yang nanti pada akhirnya ketika kita menutup mata, mestinya kita telah mencapai bentuk kepribadian atau karakter yang Allah inginkan terwujud di dalam hidup kita. Itu orisinalnya.

Jadi, begitu seorang bayi terlahir, Allah sudah memiliki rancangan baginya. Sebagai umat pilihan, kita harus mempersoalkan menjadi manusia seperti apa, dan Allah sudah membuat rancangan itu. Ada blueprint-nya; ada cetak birunya. Kita harus bergumul untuk menemukan cetak biru atau blueprint itu.

“Harus menjadi manusia seperti apakah aku ini menurut Tuhan?”

Memang, semua harus merujuk pada karakter Kristus. Namun, karakter Kristus itu seperti apa? Ini yang juga harus kita ketahui. 

Karakter Kristus adalah kemampuan untuk selalu mengerti apa yang Bapa kehendaki, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Tentu saja apa yang dialami oleh Yesus dengan apa yang dialami kita masing-masing, itu beda. Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita, segala sesuatu yang Yesus lakukan, selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Sehingga, Yesus bisa berkata, “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”
Itu yang menjadi prinsip hidup Tuhan kita, Yesus Kristus.

Demikian pula kita. Tuhan mau kita menjadi satu pribadi yang unik, mulia, dan agung dengan kemampuan karakter seperti Kristus tadi; segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa di surga. Itulah standar karakter yang kita harus miliki. Oleh sebab itu, di dalam kekristenan, belajar mengenai character building tidak cukup hanya bicara apa itu rendah hati, bagaimana rendah hati dengan ukuran umum.

Karena kita memiliki ukuran khusus, yaitu Yesus sendiri. Dan di dalam hal ini, di dalam karakter Kristus itu, ada kepekaan; sensitivitas kepada Allah. Itulah sebabnya.
Filipi 2:5-7 firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

Jadi, memiliki pikiran dan perasaan Kristus itu sama dengan kemampuan untuk bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan itu merupakan perjuangan hidup kita sampai kita menutup mata. Itu agenda kita satu-satunya.

Bersyukur bagi mereka yang masih muda, sebab mereka masih memiliki kesempatan yang panjang untuk dibentuk menjadi pribadi yang agung dan mulia, dengan kemampuan mengerti apa yang baik, yang berkenan, dan secara sempurna, atau dengan kemampuan bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Di sinilah anugerah keselamatan ini berporos. Jadi, bukan hanya menerima pengampunan dosa, bukan hanya menerima pembenaran oleh darah Kristus atau dianggap benar, tapi juga proses untuk dikembalikan ke rancangan semula.

Proses menjadi seorang yang berkepribadian agung dan mulia, yang memiliki kemampuan selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan inilah sebenarnya inti dari keselamatan, inti dari Injil itu: menjadi manusia sesuai gambar dan rupa Allah. Dan rancangan Allah semula memang demikian.

Jadi, character building itu bukan hanya dipelajari dalam satu, dua bulan atau dalam paket-paket tertentu, melainkan di sepanjang umur hidup kita. Karena kita adalah orang-orang yang benar-benar diproses terus menjadi murid, dan tidak pernah berhenti sampai kita menutup mata, sampai kita dipanggil pulang ke surga.

Tentu saja ketika kita menutup mata, kita dipanggil pulang ke Rumah Bapa, kita sudah menemukan potret wajah hidup kita sesuai dengan rancangan Allah atas hidup kita masing-masing individu.

Ketika seorang bayi manusia lahir, maka Allah sudah memiliki rancangan bagaimana menjadikan dia berkepribadian tertentu dengan kualitas karakter moral yang tinggi, yang serupa dengan Yesus; yaitu mampu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa.

Di sini kita bisa mengalami seperti yang dialami Tuhan Yesus, atau berstatus seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus. Kalau Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa, kita juga menjadi manusia—anak-anak lAllah—untuk kemuliaan Allah Bapa.
Inilah harta kekal yang dapat kita miliki di dalam keabadian. Dan kita tidak pernah menyesal menjadi orang percaya yang benar, yang diproses untuk menjadi semakin segambar dan serupa dengan Allah Bapa sebagai kemuliaan-Nya.
Oleh sebab itu, bagian kita adalah menyelesaikan karakter kita yang belum seperti Kristus. Hal ini harus selesai sebelum kita selesai atau sebelum meninggal dunia.
 
Karakter Kristus adalah kemampuan untuk selalu mengerti apa yang Bapa kehendaki
sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. (Redaksi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan
Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029
Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga
Warga Kecewa Kondisi Baru Masjid Nurul Wathon Pakansari, Fasilitas Dinilai Banyak Rusak
Wakil Bupati Tapteng Berangkatkan Calon Jemaah Haji Kloter 14 Embarkasi Medan
55 Jamaah Calon Haji Asal Tapteng Diberangkatkan
Wabup Tekankan Integritas Majelis Hakim di MTQ ke-59
Bupati Humbahas Terima Kunjungan PPG Jemaat HKI Bahalimbalo Simpang Tiga Paranginan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:22 WIB

Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:58 WIB

Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:01 WIB

Warga Kecewa Kondisi Baru Masjid Nurul Wathon Pakansari, Fasilitas Dinilai Banyak Rusak

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:11 WIB

Wakil Bupati Tapteng Berangkatkan Calon Jemaah Haji Kloter 14 Embarkasi Medan

Berita Terbaru

Pemerintahan

Presiden RI dan Bupati Humbahas Serahkan Bantuan Qurban

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:24 WIB