Humbahas, Sumut || Sangkakala 7
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan terus menunjukkan keseriusannya dalam menjaga dan mengembangkan identitas budaya Batak Toba melalui pelestarian aksara Batak serta peningkatan Pariwisata.
Upaya ini telah lama difokuskan pada penerapan Aksara Batak dalam kurikulum pendidikan, seni gorga, dan pengembangan destinasi wisata yang sarat nilai budaya.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan, Dina Simamora, langkah pelestarian ini merupakan bagian dari strategi besar membangun pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Aksara Batak bukan sekadar simbol, tetapi jiwa dari kebudayaan Batak Toba. Setiap ukiran, setiap goresan huruf di gorga atau monumen, membawa doa dan makna yang dalam.
Karena itu, kita ingin menghidupkannya kembali agar pengunjung tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga merasakan nilai-nilai leluhur yang terkandung di dalamnya,” ujarnya di temui di ruang kerjanya di Doloksanggul, Jumat (07/11/2025).
Pemerintah daerah berkomitmen menjadikan Aksara Batak sebagai bagian dari wajah wisata Humbang Hasundutan, mulai dari desain papan nama, rumah adat, hingga ornamen ruang publik.

“Kita ingin setiap wisatawan yang datang ke Humbahas bisa belajar sesuatu dari budaya Batak Toba. Misalnya, membaca tulisan Batak di pintu rumah adat, atau menulis namanya dengan aksara Batak di tempat wisata. Inilah bentuk wisata edukatif berbasis kearifan lokal,” tambahnya.
Dina Simamora menambahkan, Dinas Pariwisata tengah merancang konsep ‘Wisata Edukasi Aksara Batak’, yang akan diterapkan di beberapa destinasi unggulan seperti Dolok Sanggul, Tipang, Baktiraja, dan Muara.
Program ini menggabungkan pembelajaran aksara dengan pengalaman budaya dan alam Humbang Hasundutan.
“Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tapi juga belajar filosofi di balik setiap gorga, memahami arti tulisan di monumen, dan mengenal kisah leluhur Batak Toba yang diwariskan melalui aksara,” katanya.
Selain memperkaya pariwisata, penerapan aksara Batak juga diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan informal bagi masyarakat lokal.
Di beberapa desa wisata, rencananya akan dibangun papan edukatif yang menampilkan Aksara Batak beserta artinya, agar generasi muda semakin akrab dengan warisan budaya sendiri.

“Anak-anak kita harus tumbuh dengan mengenal aksaranya sendiri. Kalau mereka bisa membaca dan menulis aksara Batak, berarti mereka juga mengenal jati dirinya sebagai orang Batak Toba,” tutur Simbolon.
Kearifan lokal Batak Toba, seperti falsafah “Dalihan Na Tolu”, prinsip hidup yang mengajarkan keseimbangan antara hormat, kasih, dan kebersamaan, juga menjadi inspirasi dalam program pelestarian ini.
“Dalam setiap langkah pengembangan wisata budaya, kita pegang nilai Dalihan Na Tolu. Kita hormati leluhur, kita jaga hubungan dengan sesama, dan kita syukuri alam yang telah memberi kehidupan. Itu sebabnya, setiap ornamen aksara Batak yang kita tampilkan juga membawa pesan moral dan spiritual bagi masyarakat,” jelasnya.
Pemerintah daerah berharap, dengan penguatan aksara Batak dalam dunia pendidikan dan pariwisata, Humbang Hasundutan dapat menjadi pusat pelestarian budaya Batak Toba di kawasan Danau Toba.
“Pelestarian budaya bukan langkah mundur, tetapi cara kita menatap masa depan dengan jati diri yang kuat. Aksara Batak akan menjadi simbol hidup dari kebanggaan Humbang Hasundutan,” tutupnya .
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna







