Ketika Kas Masjid Dana Umat Hanya Sibuk Untuk Renovasi Masjid
TANGERANG | Sangkakala.tv –
Waktu Magrib yang menegangkan, orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan angker untuk bersembunyi.
Tidak ada azan Magrib hari itu
sebab seluruhnya pergi mengejar pencuri yang lancang mencemari rumah suci dengan perbuatannya yang keji.
Massa terus mengejar pencuri kotak amal dan teriak saling sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara
mereka meneriakkan takbir.
Mereka makin dekat di halaman rumah angker, angin bertiup semerbak aroma melati dibawa
dari arah rerimbunan pepohonan.
Rumah tua rewot berbau melati,
konon sering ada penampakan
wanita terbang melayang-layang
sambil tertawa cekikian
mengitari rumah.
Siapa yang peduli bau melati dan
penampakan sosok hantu wanita ?
Dalam rombongan diantaranya ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri ?
Kondisi semakin mencekam bau melati makin kental dan menusuk hidung.
Aroma melati mendatangkan ketegangan yang mengerikan.
Tak berapa lama kemudian rombongan telah sampai di halaman rumah.
“Allahu Akbar ”
Pak Haji mengucap takbir, pandangannya menatap tajam
ke awang-awang, sementara warga
yang lainnya senyap.
Beberapa orang gemetaran,
ada juga yang mulutnya sampai menganga.
Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.
“Mengapa tak ke masjid ?
Mengapa tak mengumandangkan azan ?
Bangsaku menutup telinga, beberapa sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau,” sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.
“Kami mau menangkap pencuri kotak amal !”
Pak Haji sedikit gemetar.
Tidak bisa, dia mencari perlindungan di rumah kami !
Wajib bagi kami untuk melindunginya !”
Setan terkutuk !
Sudah terkutuk, sukanya membela pencuri yang kelakuannya terkutuk !
Kamu lebih terkutuk !
Kalian semua terkutuk !
Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan.
Pak Haji membaca Ayat Kursi,
warga berzikir bersama-sama.
Dengung suara zikir terdengar bagai segerombolan lebah.
Tak lekas terbakar,
wanita itu malah menirukan
bacaan Ayat Kursi secara fasih.
Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu,
bahkan tiap hari kamu membaca berjus-jus quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati ?
Ucap wanita yang kini
duduk di atas dahan pohon beringin.
“Apa maksudmu, setan busuk ?”
Aku tahu siapa si pencuri kotak amal.
Dia cuman anak-anak, dia yatim.
Kini bertambah jadi piatu, simboknya baru saja
meninggal seminggu yang lalu.
Tanah kuburannya masih basah lalu .
Kini kalian mau menghabisinya ?
Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian ?
Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.
Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri !
Kamu mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan, hidupnya kini sebatang kara !
Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu ? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja ?
Kalau masjidnya bagus nyaman dan ibadah jadi tenang.
Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.
“Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Allaah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian tak mau menggubrisnya.”
“Kurang ajar !
Beraninya kamu merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausanb!”
Pak Haji kembali menaikkan suara, telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.
Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat.
Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani ?
Wanita itu kembali cekikikan.
Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Pak Haji melunak secara kaffah.
Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya?
Tertunduk Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini.
Bau melati semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan,
Pak Haji pingsan paling akhir.
“Pak, bangun ! Sudah Magrib. Ayo ke masjid.
Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Asar.
Buru-buru Pak Haji ke masjid dan mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya.
Usai Magrib, Pak Haji dan beberapa jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat.
Esok hari pak haji buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya.
Ia mendatangi rumah anak yatim yang ada di dalam mimpi.
Tersuruk-suruk langkah Pak Haji membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.
“Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!”
Sesampai di depan gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru-buru Pak Haji dan warga dengan bangga membuka pintu gubuk yang hampir roboh itu,
dan…apa yang mereka saksikan…
Yatim-piatu itu
telah terbujur kaku
di atas sajadah lusuh
sambil memegangi perutnya…
di hadapannya ada Alquran kecil yang
masih terbuka pada surah al-Mukmin ayat 47…
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…
*Allah berada di tengah-tengah orang yang hatinya hancur*
(Majid)








