TOBA, SUMUT || Sangkakala 7
Penguatan budaya literasi di Kabupaten Toba dinilai tidak cukup hanya melalui kegiatan lomba dan produksi konten.
Literasi perlu hadir dalam kehidupan masyarakat melalui budaya membaca, ruang diskusi, serta pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan aktivitas masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam pengumuman pemenang Lomba Video Konten Literasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Toba di Gedung Sentra Pemuda Soposurung, Balige, Kamis (8/10/2026).
Bunda Literasi Kabupaten Toba, Ny. Astita Effendi Sintong P. Napitupulu, mengatakan kreativitas generasi muda dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas kampanye literasi.
Menurutnya, pesan tentang pentingnya membaca dapat disampaikan melalui berbagai bentuk konten yang menarik dan mudah diterima masyarakat.
“Videonya bagus-bagus, idenya beragam. Yang paling penting, semua membawa pesan pentingnya membaca,” ujar Astita.
Ia mendorong peserta yang telah mengikuti lomba untuk tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.
Karya dan kreativitas yang dimiliki diharapkan terus dikembangkan untuk ikut membangun budaya literasi di Toba.
“Berikutnya terus berkarya dan ambil bagian dalam budaya literasi di Toba,” katanya.
Astita juga menyoroti fungsi perpustakaan yang menurutnya perlu terus dikembangkan.

Perpustakaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan, tempat berdiskusi, serta ruang pertemuan bagi masyarakat dan pegiat literasi.
“Perpustakaan harus berkembang menjadi ruang yang menyimpan ilmu pengetahuan, tempat berdiskusi sekaligus ruang untuk mempertemukan para pencinta literasi,” ujarnya.
Jangan Sekadar Mengejar Tayangan
Dorongan memperluas makna literasi juga disampaikan Staf Ahli Bupati Toba, Sahat Manullang, saat menyampaikan arahan Bupati Toba Effendi Sintong P. Napitupulu.
Sahat menilai tema literasi pada kegiatan berikutnya dapat dikembangkan lebih luas dengan mengaitkannya dengan berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Ia menyebut ekonomi, pariwisata, pendidikan, dan pertanian sebagai sejumlah bidang yang dapat menjadi bagian dari pengembangan tema literasi.
“Saya harap berikutnya tema yang kita angkat fokus pada literasi dengan cakupan yang lebih luas. Baik dari sisi ekonomi, pariwisata, pendidikan dan pertanian,” katanya.
Sahat juga mengingatkan agar produksi konten tidak hanya diarahkan untuk memperoleh jumlah penonton atau rating.
Menurutnya, konten literasi harus memiliki nilai dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saat ini konten yang negatif selalu banyak ditonton. Tetapi kepada para peserta kami nyatakan bahwa konten yang kalian produksi bukan sekadar mencari rating, tetapi harus menjadi berkat bagi para pembaca dan penonton,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam pengembangan literasi di tengah derasnya arus konten digital.
Kreativitas tidak hanya diukur dari kemampuan menarik perhatian penonton, tetapi juga dari pesan dan manfaat yang ditinggalkan setelah konten tersebut ditonton.
Lomba Video Konten Literasi mengangkat tema “Perkembangan Perpustakaan, Budaya Baca dan Literasi di Kabupaten Toba” dan diikuti 36 peserta.
Dewan juri menetapkan tiga pemenang yaitu :
=> Juara I diraih Cinta Agnesia Napitupulu melalui karya “Turiturian Nasora Sirang”.
=> Juara II diraih Billi Hosea Sembiring dengan karya “Dari Membaca Menuju Budaya”,
=>Juara III diraih Christine Maria Yolanda Lubis melalui karya “ Aksara Lama, Perpustakaan Baru”.
Selain tiga pemenang, tujuh karya terbaik lainnya memperoleh uang pembinaan dan medali. Peserta lainnya juga mendapat apresiasi berupa uang saku dari Bunda Literasi Kabupaten Toba.
Di luar hasil perlombaan, tantangan berikutnya adalah bagaimana karya-karya tersebut tidak berhenti sebagai materi kompetisi.
Pesan tentang membaca dan literasi perlu diteruskan menjadi gerakan yang lebih luas agar perpustakaan, konten digital, dan kreativitas generasi muda benar-benar memiliki keterhubungan dengan kebutuhan masyarakat Toba.
Penulis : Ramli Hutapea
Editor : Priyatna










