TAPUT, SUMUT || Sangkakala 7
Puluhan tahun Toba Pulp Lestari berkonflik dengan berbagai Komunitas Masyarakat Adat di Tano Batak.
Permasalahan antara masyarakat adat dan Toba Pulp Lestari sudah beberapa kali terjadi, mulai dari dugaan masalah pencemaran lingkungan sampai sengketa tanah.
Lewat unggahan di media sosial FB, Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan menyerukan penutupan PT Toba Pulp Lestari.
Yang Terhormat Bapak/Ibu Pemilik dan Pimpinan PT Toba Pulp Lestari,
Dengan penuh rasa hormat, izinkan saya menyampaikan pernyataan terbuka ini sebagai bentuk keprihatinan, kepedulian, dan tanggung jawab moral saya sebagai bagian dari masyarakat Tano Batak dan sebagai pemimpin rohani dalam gereja HKBP. Tulisan ini adalah suara nurani yang muncul dari luka sosial dan ekologis yang telah lama kami rasakan.
Absennya Relasi Sosial yang Layak
Selama lebih dari tiga dekade PT TPL beroperasi di Tanah Batak, publik – termasuk saya pribadi – hampir tidak mengetahui siapa sesungguhnya pemilik dan pimpinan utama perusahaan ini. Ini merupakan ironi besar: sebuah perusahaan raksasa yang menancapkan kuku industrinya di atas tanah adat, namun tidak membangun komunikasi yang terbuka, dialog yang setara, atau hubungan sosial yang etis dengan masyarakat sekitar. Dalam perspektif etika bisnis, adat Batak, dan nilai-nilai hidup bermasyarakat, hal ini mencerminkan kegagalan fundamental dalam membangun kehadiran yang bermartabat dan bertanggung jawab.
Ketimpangan Ekonomi yang Nyata
Berbagai laporan menunjukkan bahwa PT TPL telah meraup keuntungan triliunan rupiah dari pengelolaan hutan dan lahan di kawasan kami. Namun, sebagian besar masyarakat lokal masih terperangkap dalam kemiskinan struktural. Tidak ada jejak peningkatan kualitas hidup yang sepadan dengan besarnya sumber daya yang diambil dari tanah ini. Ini menunjukkan relasi ekonomi yang timpang dan eksploitatif – di mana keuntungan terpusat pada segelintir pihak, sementara masyarakat pemilik tanah adat justru menjadi korban.
Krisis Sosial dan Ekologis yang Sistemik kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi PT TPL tidak dapat disangkal: banjir bandang, longsor, pencemaran air dan udara, perubahan iklim lokal, hingga hilangnya tanah pertanian produktif. Tak hanya lingkungan, relasi sosial di antara warga juga ikut rusak karena konflik lahan dan tekanan sosial. Bahkan, korban jiwa pun telah jatuh. Ini bukan dampak insidental, melainkan bagian dari pola yang sistemik dan berkepanjangan – sebuah krisis yang dibiarkan terjadi tanpa penyelesaian yang adil dan bermartabat.
Berdasarkan realitas-realitas ini, dengan segala kesadaran dan tanggung jawab moral, saya (pimpinan tertinggi HKBP) menyerukan kepada Bapak/Ibu untuk menutup operasional PT TPL secara permanen. Ini bukan tuntutan emosional, melainkan seruan rasional demi mencegah krisis yang lebih besar – demi masa depan yang lestari dan adil, bagi masyarakat Tano Batak, Sumatera Utara, dan dunia yang menghadapi darurat ekologis global.
Sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan, saya juga meminta agar seluruh karyawan dan karyawati yang terdampak penutupan ini diberikan pesangon yang layak dan besar, agar mereka memiliki modal untuk memulai usaha baru dan hidup mandiri.
Akhir kata, saya mendoakan agar Tuhan Yang Mahakuasa memberikan hikmat dan keberanian kepada Bapak/Ibu dalam mengambil keputusan yang benar, dan semoga Bapak/Ibu dianugerahi jalan usaha baru yang lebih adil, manusiawi, dan berkat bagi banyak orang.
Hormat saya,
Pdt. Victor Tinambunan
Penulis : Tohap Simaremare
Editor : Priyatna










