Humbahas, Sumut || Sangkakala 7
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan berupaya tingkatkan inovasi hilirasi kemenyaan.
Hal ini terbukti dari inovasi komoditi kemenyaan mampu ciptakan parfum yang berkelas di dunia. Dengan harapan hilirisasi dan inovasi produk lokal sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi daerah.
Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH., MH menegaskan, pentingnya inovasi produk lokal sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi daerah pada kunjungan kerja dan melihat langsung proses pembuatan parfum berbahan dasar kemenyan di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Humbang Hasundutan (Humbahas), Selasa, 15/10/2025.
Produk inovatif ini dikembangkan oleh UMKM Lamitana Atsiri Medicamento, binaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang memadukan teknologi modern dengan kearifan lokal Humbahas.
Bupati Humbahas Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH., MH, menegaskan pentingnya hilirisasi dan inovasi produk lokal sebagai jalan menuju ekonomi daerah yang berdaya saing.
“Kopi dan kemenyan adalah dua komoditas kebanggaan Humbang Hasundutan. Tidak cukup hanya menanam dan menjual bahan mentah. Kita harus mampu mengolahnya, menciptakan nilai tambah, dan menjadikannya produk unggulan yang bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional,” ujar Bupati .
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah akan terus berkolaborasi dengan BRIN dan pelaku UMKM untuk memastikan kemenyan Humbahas naik kelas, dari sekadar bahan ekspor menjadi ikon inovasi berbasis sumber daya lokal.
Bupati bersama rombongan meninjau berbagai alat produksi seperti Extractor Garnier dan Rotavapor, yang digunakan untuk mengekstrak minyak kemenyan menjadi bahan utama parfum alami. Proses ini dilakukan secara ilmiah dan higienis, memastikan hasil akhir memiliki standar kualitas internasional.
Kadis Koperasi, Tenaga Kerja dan UKM (Kopenaker) Nurliza Pasaribu menjelaskan, bahwa teknologi ini membuat ekstraksi minyak kemenyan jauh lebih efisien.
“Dengan mesin modern, kualitas minyak kemenyan Humbahas kini dapat bersaing di pasar global. Dari getah seharga Rp 300.000 per kilogram, setelah diolah menjadi minyak atsiri nilainya bisa meningkat berlipat-lipat,” terangnya.
Sementara itu, operator UMKM Marlundu Lumbangaol menjelaskan, bahwa parfum Lamitana Atsiri merupakan hasil perpaduan antara minyak kemenyan murni dan minyak atsiri pilihan lainnya, menghasilkan aroma mewah, elegan, dan tahan lama. Produk ini menjadi simbol bahwa inovasi lokal Humbahas mampu menembus pasar premium.
Usai meninjau proses produksi, Bupati Oloan didampingi Kadis Kopenaker Nurliza Pasaribu, Plt. Kalak BPBD Sabar Purba, dan Plt. Kadis Kominfo Irma Simanungkalit melanjutkan kunjungan ke rumah pengusaha pengepul kemenyan, Idris Sihite. Dari kunjungan tersebut, diperoleh fakta bahwa selama ini kemenyan dari Humbahas masih banyak dijual mentah setelah proses pengeringan sederhana.
“Pemerintah berkomitmen menyiapkan regulasi dan dukungan agar pelaku UMKM dapat mengolah bahan mentah menjadi produk siap jual, Kita tidak bisa terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Sudah saatnya Humbang Hasundutan menjadi produsen parfum kemenyan yang dikenal dunia. Kita punya bahan terbaik, tinggal kemauan dan kolaborasi,” tegas Bupati Oloan.
Melalui terobosan seperti ini, Bupati menegaskan bahwa Humbahas tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan ekonomi kreatif dan inovatif.
Kemenyan bukan lagi sekadar komoditas tradisional, tetapi simbol kebangkitan ekonomi baru yang mengangkat nama Humbang Hasundutan di kancah nasional dan global.”
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna










