JAKARTA | Sangkakala TV –
Pernahkah kita melihat bayi yang baru lahir ?
Bagaimanakah bayi tersebut ?
Tentunya semua bayi tidak membawa apa-apa saat kelahiran mereka.
Walaupun mereka tidak membawa kekayaan duniawi pada saat kelahiran mereka, sesungguhnya mereka membawa kekayaan sejati yang kelak akan mengikuti mereka.
Apakah kekayaan sejati yang dimaksud ?
Wujud kekayaan sejati itu adalah fisik yang sehat dan lengkap, wajah yang cantik/rupawan, suara yang merdu, terlahir di keluarga yang berkecukupan dan berbahagia, dan sebagainya.
Kekayaan sejati ini sangat bervariasi, tergantung pada buah karma si bayi yang bersangkutan.
Kekayaan sejati ini akan terus mengikuti si bayi hingga ia dewasa, meninggal dan terlahir kembali.
Oleh karena itu orang yang mempunyai kekayaan sejati ini akan berbahagia, karena kekayaan sejati tidak dapat hilang dicuri dan tidak dapat ditinggalkan sekalipun orang tersebut telah meninggal.
Seperti yang telah dikemukakan diatas, kekayaan sejati ini tidak datang begitu saja.
Kekayaan sejati muncul karena ada sebabnya, yaitu perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus baik di masa lalu dan di masa sekarang.
Ada sepuluh jasa perbuatan baik yang dapat dilakukan untuk memperoleh kekayaan sejati bagi si pelaku, baik pada kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.
Sepuluh jasa perbuatan baik itu adalah :
1. Berdana yaitu : memberikan materi (tidak selalu berupa uang, bisa juga makanan atau barang lainnya) dengan rela untuk kebahagiaan makhluk lain.
2. Menjaga sila (moralitas), yaitu :
• menghindari membunuh makhluk hidup
• menghindari mengambil barang yang tidak diberikan
• menghindari berbuat asusila
• menghindari berkata yang tidak benar / tidak patut
• menghindari mengonsumsi minuman / makanan yang dapat melemahkan kewaspadaan.
3. Pengembangan batin, yaitu bermeditasi.
Meditasi adalah cara untuk melatih kesadaran.
Ketika seseorang selalu sadar, maka ia akan selalu waspada mengamati batinnya.
Batin yang terlatih untuk sadar akan membuat seseorang semakin jarang melakukan kesalahan.
4. Menghargai dan menghormati makhluk lain, terutama kepada makhluk yang banyak berjasa kepada kita, seperti orangtua dan guru.
5. Melayani dan menolong makhluk lain.
6. Melimpahkan jasa perbuatan baik kepada leluhur/makhluk lain.
7. Turut bersimpati / berbahagia atas perbuatan baik makhluk lain.
8. Belajar Dhamma dari berbagai sumber, misalnya berdiskusi Dhamma, membaca buku Dhamma, mendengar kaset / CD pembabaran Dhamma.
Manfaat belajar Dhamma :
• Ia akan mengetahui hal-hal yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
• Hal-hal yang telah ia ketahui sebelumnya tetapi belum jelas, akan menjadi bertambah jelas.
• Menghilangkan keragu-raguan terhadap Dhamma.
• Dapat memberikan pengertian yang benar.
Pikiran akan menjadi tenang dan bahagia.
9. Mengajarkan Dhamma.
Setelah seseorang mempelajari Dhamma, baik secara teori maupun praktek, maka ia dapat melakukan kebajikan lain dengan cara mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain demi kebahagiaan mereka.
10. Meluruskan pandangan keliru.
(Redaksi)
Sumber ; ASUN GOUTAMA
FORTIBER :
SALAM ROMO ASUN GOTAMA, S.Dt.B.
WASEKJEND DPP WALUBI








