Humbahas, Sumut || Sangkakala 7
Aksara Batak salah satu pengembangan objek wisata ke Kabupaten Humbang Hasundutan.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) menegaskan, komitmennya dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya lokal melalui penguatan Aksara Batak dalam dunia pendidikan dan sektor pariwisata.
Aksara Batak mengembangkan warisan budaya lokal dalam dunia Pendidikan dan Sektor Pariwisata.
Langkah strategis ini menjadi tonggak penting untuk membangun karakter generasi muda serta memperkuat identitas “Budaya Batak Toba” sebagai kebanggaan nasional.
Aksara Batak merupakan sistem tulisan kuno masyarakat Batak yang telah digunakan berabad-abad untuk menulis surat, naskah adat, serta teks keagamaan.
Berbeda dari huruf Latin, aksara Batak bersifat silabis, setiap huruf melambangkan satu suku kata dan kaya akan makna filosofis serta nilai spiritual.
Di era modernisasi dan globalisasi, penggunaan aksara Batak kian menurun, huruf Latin mendominasi pendidikan dan administrasi publik, membuat aksara nenek moyang ini nyaris hilang dari keseharian masyarakat.
Aksara Batak Toba tergolong sulit ditemukan. Hanya beberapa orang saja yang mampu membaca aksara Batak Toba. Termasuk orang yang berasal dari suku Batak Toba.
Aksara Batak Toba memiliki dua huruf, yaitu ina ni surat (huruf utama) dan anak ni surat (huruf turunan).

Surat Batak, disebut juga sebagai Surat na Sampulu Sia (kesembilan belas huruf), Si Sia-sia, atau Aksara Batak, adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah masyarakat Batak, Sumatera Utara.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, melalui Dinas BKPSDM di bawah pimpinan Benyamin Nababan, mendukung menghidupkan kembali Aksara Batak lewat kebijakan penguatan muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka.
“Aksara Batak bukan sekadar tulisan, tetapi jati diri dan kebanggaan masyarakat Batak. Dengan memasukkannya ke kurikulum, kita sedang membangun generasi yang mengenal dan mencintai budayanya sendiri,” ujar Benyamin Nababan, Jumat, (07/11/2025).
Kebijakan ini membuka ruang bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Humbang Hasundutan untuk mengajarkan aksara Batak melalui mata pelajaran Bahasa Daerah, Seni Budaya, serta Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Siswa diajak menulis nama mereka, membuat kaligrafi Batak, hingga memahami filosofi di balik ukiran gorga tradisional yang sarat makna dan nilai estetika.
“Salah satu contoh tulisan yang kini diperkenalkan di sekolah adalah kalimat sederhana namun sarat makna, yaitu :
“Hita do anak ni Humbang Hasundutan”
(Kita adalah anak Humbang Hasundutan).
Tulisan ini mulai digunakan di sejumlah sekolah dan Kantor Pemerintahan di Doloksanggul sebagai simbol kebanggaan daerah. Banyak siswa kini mampu menulis nama mereka sendiri dengan aksara Batak suatu kebanggaan yang tumbuh di generasi muda Humbahas.

“Ketika anak-anak bisa menulis dalam aksara Batak, mereka bukan hanya belajar bahasa, tapi juga belajar mencintai asal-usulnya,” ujar Dina Simamora Plt. Dinas Disparpora diruang kerjanya.
Langkah pelestarian aksara Batak tidak berhenti di ruang kelas. Pemkab Humbang Hasundutan menjadikannya bagian integral dalam pengembangan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif.
Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH., MH, menilai pelestarian Aksara Batak memiliki nilai strategis besar, tidak hanya untuk pendidikan, tetapi juga untuk branding pariwisata daerah.
“Aksara Batak adalah simbol peradaban. Dengan menampilkannya di tempat wisata, monumen, dan gedung pemerintahan, kita tidak hanya memperindah tampilan, tetapi memperkenalkan identitas budaya Batak Toba kepada dunia,” ujar Bupati Oloan Nababan.
Dari pantauan di beberapa kawasan wisata seperti Baktiraja, Pollung, dan Tipang kini mulai menerapkan papan petunjuk dengan tulisan ganda huruf Latin dan Aksara Batak.
Para pengrajin lokal pun mengembangkan produk suvenir seperti ukiran kayu, kain ulos, dan tas batik dengan motif tulisan Batak, memperkuat Citra Humbang Hasundutan sebagai daerah wisata edukatif (edutourism) yang berakar pada budaya leluhur.
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna










