Kab. Humbahas || Sangkakalab 7
Di tengah percepatan transformasi digital yang mengubah cara bangsa ini membaca sejarah dan membangun masa depan, warisan arsitektur nasional menghadapi tantangan baru, bagaimana makna simbolik sebuah bangunan tetap hidup ketika ruang publik bergeser ke ruang digital.
Dalam konteks inilah karya Friedrich Silaban menemukan relevansinya kembali. Silaban tidak sekadar membangun struktur fisik, tetapi merumuskan arsitektur sebagai bahasa kebangsaan sebuah medium yang menyampaikan nilai, identitas, dan kedaulatan negara,” ujar Dr. Timbo Eriko Silaban kepada wartawan. Sabtu, 14/02/2026.
Di tambahkannya Arsitektur, dalam pandangan ini, bukan hanya soal fungsi dan estetika, melainkan infrastruktur simbolik. Ia membentuk cara warga negara memaknai dirinya sebagai bagian dari sebuah bangsa. Bangunan negara menjadi teks publik yang terus dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan lintas generasi.
Karya monumental seperti Masjid Istiqlal merupakan contoh paling nyata. Masjid ini tidak hanya hadir sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai simbol kemerdekaan, toleransi, dan keberanian politik sebuah bangsa muda dalam menegaskan identitasnya. Ia adalah pernyataan kebangsaan yang diwujudkan dalam bentuk arsitektur.

Namun, di era digital, simbol-simbol tersebut tidak lagi hidup semata di ruang fisik. Mereka bertransformasi menjadi narasi visual, arsip digital, konten media, dan memori kolektif daring. Generasi muda hari ini mengenal Istiqlal bukan pertama-tama dari pengalaman ruang, melainkan dari layar.
Di sinilah konsep warisan digital menjadi penting. Warisan bukan hanya soal pelestarian bangunan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai simbolik itu dirawat, ditafsirkan ulang, dan disebarkan dalam ekosistem digital.
Tanpa kesadaran ini, simbol negara berisiko kehilangan kedalaman makna dan berubah menjadi sekadar latar visual.
Dalam arus globalisasi informasi yang deras, simbol kebangsaan yang kuat berfungsi sebagai jangkar identitas. Ia menahan bangsa agar tidak tercerabut dari sejarahnya sendiri.
Pembangunan, dengan demikian, tidak boleh dipahami semata sebagai proses material, tetapi sebagai pendidikan kebangsaan yang hidup, berlangsung lintas generasi dan lintas platform.
Transformasi digital tidak boleh membuat bangsa ini lupa bahwa identitas dibangun bukan hanya lewat data dan teknologi, tetapi juga melalui simbol-simbol yang memberi makna pada keberadaan bersama kita sebagai sebuah bangsa.
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna








