Sangkakala 7 || Humbahas, Sumut
Tanaman eceng gondok yang selama ini dianggap gulma dan mengganggu perairan Danau Toba, kini mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru. Melalui pelatihan menganyam yang digelar di Kecamatan Baktiraja, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan mendorong masyarakat mengubah “masalah” menjadi peluang.
Kegiatan yang dibuka oleh Ketua TP PKK Humbahas, Ny. Erma Oloan Paniaran Nababan, pada Senin (20/4/2026), menjadi bagian dari persiapan menuju Event Humbahas Triathlon 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Juli mendatang.
Pelatihan ini menghadirkan desainer produk ramah lingkungan asal Semarang, Cocos Trisada Dasawulan, yang membekali peserta dengan teknik mengolah eceng gondok menjadi berbagai produk bernilai jual seperti tas, tikar, hingga kerajinan dekoratif.
“Selama ini eceng gondok hanya dianggap pengganggu. Padahal, kalau diolah dengan baik, bisa menjadi produk yang punya nilai ekonomi,” ujar salah satu peserta pelatihan.
Program ini merupakan kolaborasi antara Pemkab Humbahas dan pihak swasta yang bertujuan memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus mendukung promosi wisata daerah.
Hasil kerajinan dari pelatihan ini direncanakan akan dipamerkan pada puncak acara Triathlon Humbahas 2026, sehingga membuka peluang pasar langsung bagi produk lokal di hadapan wisatawan.
Selain berdampak ekonomi, pemanfaatan eceng gondok juga dinilai menjadi solusi lingkungan, mengingat pertumbuhannya yang selama ini kerap menutupi perairan Danau Toba dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun demikian, publik berharap program ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Keberlanjutan program, akses pasar, serta pendampingan usaha menjadi kunci agar eceng gondok benar-benar dapat berubah dari gulma menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna








