BANTEN | Sangkakala.tv –
Mimbar Agama Islam :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ. وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا
*Hendaklah kalian jujur. Karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan. Dan kebajikan akan mengantarkan menuju Surga. Tidaklah seseorang senantiasa jujur dan berusaha kuat untuk jujur kecuali akan ditulis di sisi Allâh sebagai orang yang shiddiiq*.( HR Bukhari)
FAEDAH :
Dalam hadits mulia ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kejujuran itu akan mengantarkan kepada tujuan luhur dan orang shiddîq akan mendapatkan kedudukan. Adapun tujuan luhur dari kejujuran adalah kebajikan dan kebaikan, dan kemudian dilanjutkan menuju Surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah shiddîqîyyah, sebuah kedudukan di bawah kedudukan nubuwwah (kenabian).
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
*Dan barang siapa yang menaati Allâh dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.* [An-Nisâ/4:69]
Betapa buruk akhir dari kedustaan. Betapa rendah martabat seorang yang berdusta. Kedustaan akan mengakibatkan melakukan fujûr (tindakan jahat), yaitu menyimpang dari jalan yang lurus, dan lalu terjerumus ke dalam Neraka. Orang yang berdusta itu orang rendah, sebab ia ditulisi di sisi Allâh sebagai pendusta. Itulah seburuk-buruk julukan bagi seseorang.
Seseorang di muka bumi ini akan gerah bila disebut-sebut sebagai pendusta di tengah masyarakatnya, bagaimana perasaannya bila di tulis di sisi Rabbnya sebagai pendusta?. Seorang pendusta dalam hidupnya, tidak akan dipercayai lagi saat mengabarkan sesuatu atau berbisnis dengan orang lain. Citra buruk pun akan tetap melekat padanya setelah meninggal.
Allâh Azza wa Jalla telah memadukan antara dusta dengan penyembahan terhadap berhala-berhala. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
*Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta*.[Al-Hajj/22:30]
(Majid)








