JAKARTA || Sangkakala7.tv –
Mimbar Agama Kristen :
Matius 7 : 1-6 ==>
1. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
2. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
3. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui ?
4. Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
5. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Hal Yang Kudus Dan Berharga ;
6. “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
Beda kata dan perbuatan, juga beda dalam dan luar ! Seorang yang munafik bisa menampilkan diri terlihat sangat saleh, kata-katanya sangat rohani, tetapi sikapnya yang melecehkan orang lain membuktikan kebobrokan moralitasnya dan orientasi keduniawiannya.
Salah satu bentuk kemunafikan adalah suka mencela orang lain dengan ukuran atau standar kebenaran buatan diri sendiri atau orang lain, yang bukan dari Tuhan.
Oleh karena itu nasihat Tuhan Yesus harus disimak baik-baik.
PERTAMA ;
Yesus mengajarkan agar jangan kita menghakimi orang lain. Hanya Allah yang memiliki hak untuk menghakimi manusia karena Dialah Sang Pencipta yang mengetahui luar dalam ciptaan-Nya sendiri.
KEDUA ;
Kita semua manusia berdosa, memiliki kelemahan masing-masing. Waktu kita menghakimi orang lain, kita sebenarnya sedang membuka diri untuk dihakimi juga (ayat 2).
KETIGA ;
Orang yang suka menghakimi orang lain tanpa ia sadari telah menempatkan diri sebagai Tuhan yang Maha Tahu akan kesalahan orang lain. Ia lupa bahwa jangan-jangan dirinya memiliki kesalahan yang jauh lebih besar daripada kesalahan orang yang ia hakimi (ayat 3-5).
*Ayat enam sebenarnya berdiri sendiri. Di sini Yesus mengingatkan agar dengan hikmat yang dari Tuhan kita tidak menyia-nyiakan waktu berharga untuk orang-orang yang memang tidak mau diajar atau mendengarkan pengajaran hikmat Ilahi.
Harus diingat, jangan kita mengukurnya semata-mata dari ketidakiklasan kita melayani orang yang perlu dilayani. Ini juga sebenarnya sejenis penghakiman yang berukuran duniawi, mengukur untung rugi pribadi dalam melayani orang tertentu.*
Bagaimana sikap hati yang benar tatkala ada saudara kita yang bersalah ?
Bukan dengan menghakimi dia, tetapi dengan menyatakan kasih Allah yang bisa berupa nasihat, dorongan, bahkan teguran, sambil menjaga diri tidak jatuh ke dosa yang sama (Gal. 6:1).*
*Selamat Beribadah Bersama Keluarga. Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua.*
*JAGA KESEHATAN DAN TETAP KUAT DI DALAM TUHAN*
(EK)








