Photo : PTAR menyerahkan paket makanan tambahan, susu, vitamin dan telur, kepada anak penderita stunting. (Sangkakala 7/Dzulfadli Tambunan]
Tapsel, Sumut || Sangkakala 7
Tidak hanya Pemerintah, peran sektor swasta diharapkan turut serta membantu penurunan angka stunting di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh PT Agincourt Resources yang terus bergulat mengatasi persoalan stunting di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Manager Community Development Agincourt Resources, Rohani Simbolon mengatakan, berdasarkan data UNICEF dan WHO, angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan tertinggi ke-27 dari 154 negara. Situasi ini menggerakkan perusahaan untuk bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan, Puskemas Batang Toru, dan perangkat daerah lainnya untuk mengatasi stunting.
”Kami memahami bahwa stunting merupakan masalah gizi yang menimbulkan berbagai dampak, dan berpengaruh terhadap kehidupan generasi selanjutnya. Penanganan anak stunting tidak hanya berfokus pada tindakan kuratif, melainkan juga pada tindakan preventif dan berkelanjutan,” ujar Rohani, Sabtu (7/12/2024).
Rohani menyebutkan, beberapa tindakan telah dilakukan pihaknya yakni, Program Revitalisasi Posyandu di 14 desa, Program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS), dan Pelayanan Kesehatan Bergerak melalui bakti sosial pengobatan gratis ke desa-desa, yang jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Tidak berhenti begitu saja, PTAR konsisten melakukan program penanganan stunting dengan berbagai upaya lainnya semisal, mendorong Posyandu yang sudah dibina untuk memiliki program inovasi, dan membentuk komunitas Kader Pembina untuk menjaga keberlanjutan pembinaaan berkonsep peer educator sesama kader.
Manfaat program BAAS sangat dirasakan Tetty Lanna Sari Hasibuan, warga Desa Sumuran, Batang Toru. Ibu rumah tangga berusia 42 tahun ini bercerita anaknya yang kala itu berusia tujuh bulan dinyatakan stunting oleh pihak Puskemas, lantaran tumbuh kembang si anak tidak sesuai dengan umurnya.
Ia lantas disarankan untuk mengikuti program BAAS. Setiap dua minggu Tetty membawa anaknya yang stunting ke Puskemas Batang Toru untuk diperiksa dokter spesialis anak. Ia juga mendapat bantuan susu dan vitamin sesuai resep dokter.
”Sekarang anak saya sudah berusia 1 tahun 8 bulan. Kondisinya jauh lebih baik dan semakin aktif. Pihak Puskesmas menyampaikan bahwa bulan depan anak saya selesai mendapatkan penanganan dan akan dinyatakan bebas stunting,” kata Tetty senang.
Penulis : Dzulfadli Tambunan
Editor : Priyatna







