KAB. TOBA, SUMUT || Sangkakala 7
Pembukaan Balige Writer’s Festival (BWF) 2025 berlangsung di tepi pantai, Desa Lumban Gaol, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. Balige Writers Festival (BWF) adalah Festival penulis pertama di Sumatera Utara, dan ini adalah Festival ketiga kali.
BWF 2025 mengusung tema; Holong (bahasa Batak), dalam bahasa Indonesianya Cinta. Holong dalam filosofi Batak adalah sebuah tindakan nyata, bukan hanya kata. Holong mendasari beragam luncuran program Diskusi Panel, Kelas Kreatif, Lokakarya, Peluncuran dan Diskusi Buku, Pembacaan Karya, Tortor dan Panggung Seni, Bazar Buku dan Pameran UMKM, Riset Desa, Jelajah Kota Balige.
BWF menghadirkan para tokoh kota Balige yang telah bekerja melalui tindakan nyata. Parlin Sianipar, Tonggo Pardede, Moriana Hutabarat, telah menunjukkan rasa holong mereka terhadap masalah-masalah sosial di Toba. BWF juga ingin mendengarkan para pejuang lingkungan berbicara tentang holong tu tano Toba dari sudut ekoteologi dan budaya, serta memberdayakan masyarakat agar tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Pelaksanaan Balige Writer’s Festival (BWF) 2025 didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.
Kementerian Kebudayaan menempatkan sastra sebagai salah satu pilar dalam ekosistem pemajuan kebudayaan. Festival sastra dipandang sebagai wahana efektif untuk menggerakkan ekosistem tersebut.

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melibatkan Disbudpar Toba Kabupaten Toba, Diskominfo Toba, Dinas Perpustakaan Toba, dan dihadiri oleh Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Kementrian Kebudayaan RI, Annisa Rengganis, Direktur Bina SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementrian Kebudayaan RI, Irini Dewiyanty, bersama Wakil Bupati Toba Audy Murphi Sitorus dan beberapa pejabat daerah Toba, Kadis Budpar Rusti Hutapea Mpd Kapolres Toba AKBP Vije, Kadis Kominfo Toba, Kades Lumban Gaol Tambunan, Edward Tambunan Tokoh Masyarakat Toba, Parlin Sianipar pendiri Bank Sampah Toba, Profesor Albiner Siagian Dosen, Tonggo Pardede, Morana Hutabarat dan sebagai moderator Meilinda Siahaan.
Dukungan Kementerian Kebudayaan itu berupa Program Penguatan Festival Sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Melalui sinergi kedua program, sastra didorong tumbuh dan berkembang dari jantung Tapanuli ke panggung nasional, bahkan internasional.
MTN hadir dengan program pelatihan MTN Lab @Emerging Writers BWF 2025 yang diikuti sepuluh (10) penulis pemula potensial terutama dari Sumatera. Program ini sejalan dengan tujuan MTN untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
Sepuluh penulis pemula potensial datang dari 10 Kota;
Kesepuluh penulis pemula potensial datang dari berbagai tempat. Dari Takengon Aceh, Medan, Padangsidempuan, Pematangsiantar, Pekanbaru, Pariaman, dan dari luar Sumatera, dari Surabaya. Mereka terpilih setelah melewati pengkurasian Tim Kurator BWF 2025, yaitu Debora Angelia Pardosi, Nestor Rico Tambunan, dan Ubai Dillah Al Anshori.
Mereka akan mengikuti MasterClass Kepenulisan, Riset dalam Penciptaan Karya, dan Swasunting. Sebagai mentor, MTN menghadirkan dua penulis, Ahda Imran dan Ida Fitri. Ahda adalah sastrawan senior asli Bandung. Dan Ida Fitri, baru-baru ini novelnya, Paya Nie, masuk dalam daftar pendek penghargaan Kusala Khatulistiwa 2025.

Program Penguatan Festival Sastra mendukung BWF 2025 dengan menghadirkan 5 (lima) penulis, yaitu:
1. M Aan Mansyur penyair asal Makassar;
2. Abinaya Ghena Jamila penulis muda dari Yogyakarta;
3. Yona Primadesi, penulis dan periset sastra anak,
4. Rio Fernandez Tamba dari Kawan Pustaha Yogyakarta, akan berbicara tentang riset desa, dan
5. Afrianty Pardede –seorang penyunting dari satu penerbit besar di Tanah Air.
BWF 2025 mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Toba.
Desa Wisata Lumbangaol menjadi pusat kegiatan bukan tanpa sebab. Desa ini tahun 2017 disebut tertinggal, namun mengejar ketinggalan dan sekarang menjadi desa maju karena kerja keras Kepala Desa untuk warganya. Selama empat hari peserta akan tinggal di homestay-homestay desa, menikmati suasana serba terbuka, bersejuk angin Danau Toba sore hari.
Pada hari terakhir peserta akan diajak menjelajahi kota dan desa yang lain, sebelum Festival ditutup sederhana di Taman Gurgur Tampahan.
Acara ini didukung PT Inalum Almunium Asahan, Mtn, Bank Sumut, Collaborators, Alex Media Komputindo, Toba TV, Batak Center, Teropong Sumatera, Gurgu Nature Cafe N Resto Tampahan.
Penulis : Ramli Hutapea
Editor : Priyatna








