Sangkakala7.tv || Humbahas, Sumut
Peristiwa longsor di Kecamatan Pakkat yang menyebabkan satu unit Toyota Innova terjun ke jurang sedalam sekitar 10 meter kini viral di media sosial dan menuai sorotan tajam publik.
Dua korban dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden yang terjadi pada Minggu (23/3/2026) pagi.
Kejadian ini tidak lagi dipandang sebagai kecelakaan semata. Di tengah derasnya reaksi warganet, muncul dugaan kuat bahwa insiden tersebut merupakan dampak dari lemahnya penanganan infrastruktur di jalur yang telah lama dikenal rawan longsor.
Material longsor berupa tanah dan bebatuan menutup badan jalan serta menggerus bahu jalan hingga amblas. Kondisi ini disebut-sebut sudah berulang kali terjadi tanpa penanganan permanen. Jalur strategis yang seharusnya menjadi penghubung vital antarwilayah kini justru berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan.
Sekitar pukul 06.00 WIB, saat aktivitas masyarakat mulai meningkat, kendaraan Innova yang melintas diduga tidak mampu menghindari kondisi jalan yang licin dan menyempit. Mobil tersebut kehilangan kendali dan terjun ke jurang. Dua korban langsung dievakuasi dalam kondisi luka dan mendapat penanganan medis.
Ironisnya, korban diketahui tengah dalam perjalanan duka dari Jakarta menuju Aek Sopang untuk melayat orang tua yang meninggal dunia. Peristiwa ini semakin memicu empati sekaligus kemarahan publik di media sosial.
Pihak kecamatan mengakui bahwa upaya mitigasi yang dilakukan selama ini masih bersifat sementara. Tanda peringatan yang sebelumnya dibuat tidak bertahan lama akibat dilintasi kendaraan bertonase besar.
“Sudah dibuat tanda, tapi kembali rusak. Ini memang butuh penanganan serius,” ungkap Plt. Camat Pakkat.
Pernyataan tersebut justru memicu kritik lebih tajam. Warganet dan masyarakat menilai penanganan yang tidak maksimal sama saja membiarkan potensi kecelakaan terus berulang. Desakan agar dilakukan perbaikan permanen pun semakin menguat.
Kapolres Humbahas AKBP Adi Nugroho bergerak cepat dengan menurunkan personel untuk evakuasi dan pengamanan di lokasi.
“Kami fokus pada keselamatan masyarakat dan pengaturan lalu lintas agar tidak terjadi kecelakaan lanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Humbang Hasundutan Oloan Paniaran Nababan juga merespons cepat dengan menurunkan tim ke lokasi. Namun, langkah tersebut dinilai publik masih bersifat reaktif dan belum menyentuh akar persoalan yang sudah lama dikeluhkan masyarakat.
Desakan kini mengarah pada tindakan konkret dan permanen, seperti penguatan struktur tebing, pembangunan sistem drainase, hingga rekonstruksi total badan jalan di titik rawan longsor.
Jalur Pakkat sendiri selama ini dikenal sebagai “zona merah” longsor di Sumatera Utara. Kombinasi curah hujan tinggi, kondisi geografis yang labil, serta tingginya aktivitas kendaraan berat menjadikan kawasan ini sebagai ancaman laten yang terus berulang.
Saat ini, arus lalu lintas masih diberlakukan sistem buka-tutup dengan pengawasan petugas. Namun, langkah tersebut dinilai hanya solusi jangka pendek.
Peristiwa ini menjadi alarm keras yang kini menggema hingga ke media sosial.
Tanpa penanganan serius dan terintegrasi, jalur Pakkat tidak hanya rawan longsor, tetapi berpotensi terus memakan korban berikutnya.
Penulis : Charles Sihombing
Editor : Priyatna








