JAKARTA | Sangkakala.tv –
Dimana ada kelahiran, disitu pasti ada kematian. Ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Perpisahan dengan orang yang kita cintai, atau pertemuan dengan orang yang kita paling benci pasti akan menimbulkan sebuah penderitaan bathin.
Tanpa kita sadari, bathin menjadi bergejolak dan kadang kala kita tidak bisa melepaskan yang namanya kemelekatan. Kemelekatan ini diakibatkan oleh masih adanya kebodohan sehingga belom bisa atau mampu menerima keadaan bahwa orang yang kita kasihi telah meninggalkan kehidupan dunia ini.
Mau atau tidak mau, berat ataupun tidak berat, tidak ada pilihan lain harus bisa menerima kenyataan bahwa setiap makhluk pasti akan mengalami kelahiran, sakit, usia tua dan kematian.
Jika tidak menginginkan kematian, maka harus menghentikan sebabnya yakni kelahiran.
Buddha memaparkan, sejatinya sifat kesejatian diri (Hakekat KeBuddhaan) tidak lahir dan tidak mati. Inilah yang harus senantiasa kita renungkan, sadari dan kembangkan agar tidak lagi terjerumus di dalam siklus kelahiran dan kematian yang tidak berujung pangkal.
Kelahiran dan kematian tidak akan berkahi bilamana tidak mampu memutuskan nafsu baik ragawi maupun bathiniah.
Oleh karenanya penting sekali untuk senantiasa mengendalikan Pancaskandha ini, memaksimalkannya untuk tujuan kebajikan agar tercapainya kesempurnaan Paramita.
Pada akhirnya Pancaskandha inipun juga harus di sunyakan, sehingga bathin kita tetap dalam keadaan seimbang (tanpa gejolak) lagi. (Redaksi)
SALAM ROMO ASUN GOTAMA, S.Dt.B
WASEKJEND DPP WALUBI








