* Kemelekatan Adalah Penderitaan *

- Redaktur

Selasa, 21 September 2021 - 01:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Sangkakala.tv –
Sering kali kita terlalu melekat pada sesuatu yang tidak semestinya dan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan, seperti pakaian, sepatu, sandal yang sudah tidak dipakai sampai barang-barang bekas lainnya.

Akhirnya barang-barang tersebut hanya menjadi penghias rumah. Apabila kita enggan untuk melepaskannya maka rumah yang kita tempati akan serasa seperti gudang barang bekas.

Kebiasaan menyimpan barang-barang tersebut hanya membuat rumah kita menjadi tempat sampah.
Kalau barang-barang tersebut sudah tidak digunakan dan kita sulit untuk melepaskannya, maka untuk berbuat baik pasti sangat berat sekali.

Padahal barang bekas itu akan bermanfaat apabila diberikan kepada orang yang membutuhkan, daripada menjadi sampah di dalam rumah.

Kalau kita tidak pernah siap untuk melepaskan kepemilikan, maka suatu saat ketika kita kehilangan sesuatu yang disayangi, maka kita akan kecewa.

Dhammapada Atthakatha mengisahkan tentang seorang Thera yang melekat pada jubahnya.

Kisahnya berikut ini :
Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatthi.
Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah tersebut.

Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.
Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, “Mereka sedang merusak jubahku !”

Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau.
Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan perbuatan para bhikkhu dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari kemudian.
Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian para bhikkhu tsb bertanya kepada Sang Buddha mengapa Beliau meminta mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera.

Kepada mereka Sang Buddha berkata, “Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karena hal itu ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut.
Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu sangatlah menderita dan berlarian tak tentu arah dalam lipatan jubah itu.

Jika engkau mengambil jubah tersebut pada saat itu, Tissa si kutu akan merasa sangat membenci kalian dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya).
Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu Aku memperbolehkan engkau mengambil dan membagikan jubah tersebut.

“Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya).

Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut :
Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan. (Dhammapada XVIII.6)

Kita harus menyadari bahwa hidup ini tidak selalu sesuai dengan kehendak sendiri.

Pada suatu saat semua yang kita miliki akhirnya akan ditinggalkan.

Jangankan barang-barang yang disayangi, orang-orang yang kita cintai pun kita tinggalkan, demikian pula jasmani yang kita rawat tiap hari.

Jadi, belajarlah melepaskan sebelum mereka yang meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya.

Belajarlah untuk melepas yang kecil-kecil dahulu dengan berdana, sampai pada saatnya dapat melepaskan yang lebih tinggi yaitu kekotoran batin seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Kekotoran batin adalah kilesa yang menyebabkan manusia dicengkeram oleh ketidakpuasan.

Oleh karenanya, jadikan melepas sebagai latihan dalam keseharian agar kita terlatih dalam menyikapi hidup dan kehidupan.
Kalau ada rasa sayang untuk melepas, ingatlah cerita di atas dan bahayanya.

SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban
Pengurus BKS Pemuda/i GKPI Wil.VII Humbahas, Samosir, Toba dan Taput Periode 2025-2030
Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan
Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029
Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga
Warga Kecewa Kondisi Baru Masjid Nurul Wathon Pakansari, Fasilitas Dinilai Banyak Rusak
Wakil Bupati Tapteng Berangkatkan Calon Jemaah Haji Kloter 14 Embarkasi Medan
55 Jamaah Calon Haji Asal Tapteng Diberangkatkan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:57 WIB

Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:23 WIB

Pengurus BKS Pemuda/i GKPI Wil.VII Humbahas, Samosir, Toba dan Taput Periode 2025-2030

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:22 WIB

Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:58 WIB

Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga

Berita Terbaru

Pemerintahan

BUPATI HUMBAHAS TERIMA AUDIENSI UPT SAMSAT DOLOKSANGGUL

Kamis, 11 Jun 2026 - 18:59 WIB

Pemerintahan

Bupati Tapteng Terima penghargaan dari Kementerian Hukum

Kamis, 11 Jun 2026 - 18:47 WIB