Kabupaten Bekasi, Jabar || Sangkakala 7
Tanah yang sehat merupakan modal utama untuk menghasilkan pertanian yang produktif. Pengambilan sampel tanah yang dilakukan dengan benar menjadi langkah awal yang sangat penting.
Kondisi tanah dapat diketahui melalui tiga langkah utama: pengamatan fisik (tekstur dan warna), uji keasaman (pH), dan analisis laboratorium. Prosedur yang benar akan menghasilkan data yang tepat untuk menyusun rekomendasi pemupukan.
Anda bisa memantau kesehatan lahan Anda menggunakan panduan berikut:1. Pengamatan Fisik dan BiologiWarna: Tanah yang subur biasanya berwarna cokelat gelap hingga kehitaman yang menandakan tingginya kandungan bahan organik.
Sampel yang diambil sesuai prosedur akan menghasilkan analisis laboratorium yang lebih akurat, mulai dari pH, C-organik, hingga kandungan unsur hara. Dari sinilah rekomendasi pengelolaan lahan dapat disusun dengan lebih tepat.
Di Indonesia, Anda dapat membawa sampel tanah ke balai penelitian resmi seperti Balai Penelitian Tanah (Balittanah) atau lembaga pengujian pertanian terdekat di wilayah Jawa Barat.
Struktur & Drainase:
Tanah yang sehat terasa gembur, mudah ditembus akar, serta mampu menyimpan air dengan baik tanpa menggenang.
Aktivitas Organisme:
1. Kehadiran cacing tanah dan serangga lain merupakan indikator utama bahwa tanah subur dan kaya nutrisi.
2. Pengukuran pH TanahKadar keasaman tanah sangat menentukan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Anda bisa mengukur pH menggunakan alat Soil Tester atau kertas lakmus. Nilai pH ideal untuk sebagian besar tanaman berkisar di angka \(6,0\) – \(7,0\). Jika pH tanah terlalu asam, Anda dapat menambahkan kapur pertanian (dolomit) untuk menetralkannya.
3. Analisis LaboratoriumUntuk hasil yang akurat dan presisi (mengetahui C-organik dan unsur hara makro/mikro), lakukan pengujian sampel tanah di laboratorium.
Penulis : Red
Editor : Priyatna
Sumber Berita: Kementerian Pertanian RI







