TEMUKAN SUKSES SEJATI DI DALAM TUHAN

- Redaktur

Selasa, 30 Maret 2021 - 22:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hidup dengan cara yang benar, sikap yang benar dan tujuan yang benar dimata Tuhan, itu baru kesuksesan yang sejati.

JAKARTA | Sangkakala.tv –
Anak muda yang sejak kecil telah menyimpan kemarahan kepada sang ayah. Sosok pria itu bernama Yunlung, ia bercita-cita tinggi, namun ayahnya yang gemar berjudi membuatnya mengecap pahit dan getirnya kemiskinan.

Waktu dulu Yunlung pernah diajak teman makan di suatu restoran di kota, tapi saya ngga diajak masuk untuk makan. Walaupun saat itu saya masih kecil, tapi saya merasa miskin itu ngga enak. Susah itu ngga enak.

Yunlung berpikir suatu hari harus punya uang, jadi ngga akan ada kejadian yang seperti ini lagi.
Tekad untuk menghasilkan uang, membuat Yunlung mengabaikan rasa malunya. Ia bersama beberapa orang temannya mencari barang-barang bekas seperti kardus, besi tua dan juga bekas botol minuman yang kemudian di jualnya kembali.

Dengan uang hasil jerih payahnya ini ia bisa mendapatkan uang jajan yang tidak pernah diterimanya dari orangtuanya. Namun upayanya untuk mandiri ini, sepertinya tidak dipandang sama sekali oleh ayahnya.

Sosok Ayah diharapkan dapat menjadi pengayom dan sumber bagi keluarganya.
Harapan itu sirna sang Ayah malah sibuk berjudi, bahkan lama-lama ayahnya menjadikan rumah mereka sebagai tempat judi.

“Yunlung suka merasa menyesal punya papa seperti itu.
Saya berpikir, suatu hari saya tidak boleh jadi seperti papa saya.”

Saat Yunlung lulus dari SMA, ia meminta untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun ayahnya dengan enteng menyuruhnya kerja.
Hal ini membuat Yunlung bertambah kecewa, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya dapat mewujudkan cita-citanya tanpa bantuan sang ayah.

Berkat pertolongan seorang saudara Yunlung, akhirnya berhasil merintis karir di luar negeri sekalipun harus melewati jalan yang berat.

Selama bekerja diluar negri, Yunlung dapat uang yang melimpah. Kesuksesan mendapat uang melimpah, membuat Yunlung lupa akan tujuannya semula.
Setiap hari Yunlung pesta pora, tanpa disadari dengan kebiasaannya itu membuat kehancuran karirnya.
Pekerjaannya yang semula menjanjikan kini terbengkalai karena ulahnya.

Dengan penuh rasa malu, akhirnya Yunlungmengundurkan diri dan pulang ke Indonesia.

“Waktu itu perasaan saya kacau, pulang tidak bawa apa-apa dan saya jadi pengangguran. Akhirnya kembali ke teman-teman lamanya, mereka mulai ngajakin ke dunia malam lagi. Setiap malam kami mulai masuk dari satu diskotik ke diskotik yang lain”.

Untuk mengalihkan rasa frustasinya karena tidak memiliki pekerjaan, dia mulai terikat minuman keras dan juga narkoba. Awalnya Yunlung menikmati obat-obat bius, hingga mengalami overdosis.

Di ambang maut itu, Yunlung meminta satu kesempatan lagi kepada Tuhan untuk bisa merubah hidupnya.

“Tuhan beri saya satu kesempatan lagi, tapi kalau seandainya saya harus mati hari ini, tolong buat saya segera mati.”

Tuhan mendengar permohonan Yunlung, ia selamat dari maut di hari itu.

Mendapatkan kehidupan baru, Yunlung semangat kembali untuk membangun masa depannya.
Ia menjual semua harta miliknya, dan memulai sebuah usaha, namun sayangnya usahanya ialah menjual minuman keras.

“Saya ngga mikir apa minuman keras itu haram, apa minuman keras itu dosa, atau menjual minuman keras itu bisa mencelakakan orang. Saya tidak pernah memikirkannya sedikitpun.”

Ditengah kesuksesannya di bisnis haram, Yunlung diajak seorang teman untuk menghadiri sebuah seminar. Namun ajakan itu berkali-kali di tolaknya.

Suatu hari saat ia mengunjungi beberapa Night Club yang menjadi konsumennya, ia melihat sesuatu yang mengusik hatinya.
Yunlung bertemu dengan seorang pelanggan dalam keadaan sangat mabuk dan dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki yang mencari-cari kesempatan.

Saat itulah hati saya merasa sakit, saya merasa takut sekali. Ternyata produk saya malah mencelakakan orang lain.”

Rasa bersalah mulai mengganggu hati Yunlung, namun ia tidak melakukan apapun hingga suatu saat ia mengalami sebuah kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

Kejadian itu terjadi saat Yunlung pulang berdua naik motor, Yunlung ngga tahu kalau tas teman di belakang di jambret. Karena tasnya ditarik, kami berdua jadi terpelanting dari motor.”

Akibat kejadian itu, ke dua kaki Yunlung cedera dan membuatnya harus terbaring di tempat tidur selama dua minggu. Saat ia dalam keadaan tidak berdaya itulah hati nuraninya kembali mengusiknya.

Ia kembali diingatkan akan ajakan temannya untuk mengikuti seminar tentang bisnis yang benar itu.

“Yunlung mulai berpikir tentang apa yang akan menjadi masa depan saya. Apakah saya benar-benar harus mengikuti seminar itu?”

Yunlung pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti seminar tersebut. Sesi demi sesi dijalaninya untuk menemukan jawaban akan sebuah usaha yang benar. Hingga sebuah perkataan dari pembicara dalam seminar itu menyentuh hatinya.

“Kita sebenarnya memiliki lima harta : harta rohani, harta jasmani, harta hubungan, harta keluarga, baru harta benda.
Kalau dulu saya berpikir: harta benda, harta benda di awal, baru sisanya di belakang.
Tetapi ternyata terbalik, dari situ saya mulai sadar, untuk apa saya kejar harta benda kalau harus mengorbankan empat harta yang sebelumnya.”

Sesi demi sesi mengubah kehidupan Yunlung, dalam seminar itu ia mengalami jamahan Tuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Saya merasakan Tuhan itu masih ingat saya, masih sayang saya. Kalau selama ini saya hidup di dunia realitas, kasih yang menuntut, yang mengharapkan imbalan, ternyata setelah di doakan, saya tidak merasakan lagi. Saya merasakan kasih yang murni dari seorang bapak. Apa yang saya pikirkan, kepahitan saya kepada orangtua, itu seperti hilang. Saya merasa lega sekali.”

Sebuah keputusan untuk mengijinkan Tuhan untuk menguasai hidupnya, telah mengubah seluruh kehidupan Yunlung. Hubungannya dengan kedua orangtuanya kini telah pulih, dan pemahamannya akan arti kesuksesan yang sejati membawanya menjadi pengusaha pertanian dan juga menjadi guru sukarelawan di sebuah pedesaan di Jawa Barat.

“Kalau dulu saya berpikir bahwa sukses itu : saya memiliki posisi yang bagus, usaha yang bagus, uang yang banyak dan mendapatkan penghargaan.
Tetapi saat ini, saya berpikir sukses itu adalah: kalau kita benar-benar mau mengikuti apa yang menjadi kehendaknya Tuhan. Kalau kita hidup dengan cara yang benar, sikap yang benar dan tujuan yang benar dimata Tuhan, itu baru kesuksesan yang sejati,” demikian papar Yunlung.

Filipi 4:7 – Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
(Calves Chandra)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kafilah Deli Serdang Raih Peringkat III MTQ Sumut ke-40
Festival Muharram Angkat Sejarah dan Pariwisata Berbasis Syar’i, Kenalkan Warisan Islam kepada Generasi Z
Bupati Humbahas Hadiri Pangojakhonon Praeses Daerah III Toba-Samosir Di HKI Balige Kota
Pangojakhonon Pimpinan Daerah III Toba-Samosir Digelar di Gereja HKI Balige Kota
Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban
Pengurus BKS Pemuda/i GKPI Wil.VII Humbahas, Samosir, Toba dan Taput Periode 2025-2030
Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan
Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:23 WIB

Kafilah Deli Serdang Raih Peringkat III MTQ Sumut ke-40

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:33 WIB

Festival Muharram Angkat Sejarah dan Pariwisata Berbasis Syar’i, Kenalkan Warisan Islam kepada Generasi Z

Senin, 15 Juni 2026 - 22:07 WIB

Bupati Humbahas Hadiri Pangojakhonon Praeses Daerah III Toba-Samosir Di HKI Balige Kota

Minggu, 14 Juni 2026 - 23:26 WIB

Pangojakhonon Pimpinan Daerah III Toba-Samosir Digelar di Gereja HKI Balige Kota

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:57 WIB

Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban

Berita Terbaru

Pemerintahan

303 Pramuka Deli Serdang Siap Berlaga di Jambore Daerah Sumut 2026

Selasa, 7 Jul 2026 - 18:04 WIB