JAKARTA | Sangkakala.tv –
Calon bhiksu muda yang belum cukup umur untuk ditahbiskan disebut ”SAMANERA.”
Dahulu ada seorang SAMANERA yang belajar agama Buddha dari seorang bhiksu yang bijaksana. Dia adalah murid yang baik. Dia hormat, tulus dan patuh. Dia belajar dengan cepat.
Gurunya amat hijaksana sehingga dapat meramal masa depan.
Guru tersebut mengetahui dari mula bahwa muridnya tidak dapat hidup lama.
Suatu hari dia menghitung dan mengetahui bahwa muridnya hanya akan hidup tujuh hari lagi, dia merasa amat sedih.
Guru tersebut memanggil SAMANERA kecil itu. Dia berkata, “Hei, SAMANERA kecil, kau sudah lama tidak menjenguk ibumu. Saya rasa kau memerlukan libur.
Pulanglah menjenguk ibumu, dan kembalilah delapan hari lagi.
Dia menyarankan demikian agar paling tidak SAMANERA tersebut dapat meninggal di rumah orang tuanya.
Ketika SAMANERA itu pergi, sang guru merasa sedih. Dia berpikir tidak akan bertemu lagi dengan muridnya.
Delapan hari kemudian SAMANERA kecil itu telah datang kembali !
Gurunya amat gembira, tetapi dia juga heran, karena muridnya kelihatan sehat. SAMANERA itu tidak kelihatan seperti orang yang hampir meninggal.
Akhimya gurunya memutuskan untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Dia berkata pada anak itu ; “Anakku, aku telah sering meramal masa depan, dan tidak pernah salah.
Aku menyuruhmu pulang
karena kau ditakdirkan meninggal dalam tujuh hari, tetapi tujuh hari telah lewat tidak hanya kau masih hidup, tetapi kau tampak sehat.
Ternyata kematian telah meninggalkanmu. Bagaimana kau melakukannya ?“
SAMANERA kecil itu terkejut. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan gurunya. Sehingga gurunya memasuki meditasi. Tidak lama kemudian dia mengerti.
“Anakku. dalam perjalanan pulang apakah kau menyelamatkan semut-semut ?“
“Ya. Guru, dalam perjalanan pulang saya melihat segerombolan semut terperangkap di air. Mereka akan tenggelam, sehingga saya mengambil sepotong kayu dan menyelamatkan mereka.”
“Ternyata itulah sebabnya. Kebaikan hatimu memberikanmu umur panjang. Orang bijaksana jaman dahulu mengatakan ; “Menyelamatkan satu nyawa menghasilkan pahala yang lebih besar daripada membangun pagoda tujuh tingkat.
Kau telah menyelamatkan
ratusan jiwa, maka kau akan hidup lama.”
“Kau telah memperoleh masa depan yang baik, tetapi kau tetap harus berusaha menyelamatkan makhluk-makhluk hidup. Dan kau juga harus menyebarkan pesan Buddha.
Ajarilah semua orang untuk hidup dengan penuh belas kasih dan tidak membunuh. Dan biarkan hewan-hewan hidup dengan damai”.
SAMANERA kecil tersebut tidak pernah melupakan kata-kata gurunya.
Dia berusaha keras untuk menjalaninya dan kemudian dia menjadi seorang bhiksu yang luar biasa. Dan akibatnya dia berumur panjang.
SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI.
(Redaksi)








