* MENERIMA APA ADANYA *

- Redaktur

Kamis, 23 Desember 2021 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Sangkakala.tv –
Mimbar Agama Buddha :

Namo Buddhaya Bhante,
Saya sedang mencari jawaban tentang “menerima apa adanya”.
Sering saya mendengar dalam ceramah atau tertulis dalam buku bahwa jika kita ingin bahagia maka harus “menerima apa adanya”.

Ada 3 hal tentang menyikapi “menerima apa adanya” dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
• 1. Masa lalu : – memang yang sudah berlalu dimasa yang lalu tidak dapat diubah dan kita harus bisa “menerima apa adanya”, ini masih relevan.

• 2. Masa sekarang : – jika pada saat ini / sekarang kita dihadapkan pada suatu pilihan, misalnya seseorang sudah bertunangan kemudian bertemu dgn orang lain yang kemudian terjalin hubungan yang dirasa malah lebih baik dan lebih cocok dibanding tunangannya, apakah sikap “menerima apa adanya” harus terus dipertahankan dan terus melanjutkan pertunangannya walaupun mungkin dirasa tidak cocok lagi ?

• 3. Masa akan datang: – bagaimana jika misalnya orang yg sudah bekerja dan tidak ada kemajuan berarti dalam karier, sedangkan jika dia pindah kerja ke tempat lain, masih ada “KEMUNGKINAN” karier dan pendapatannya bertambah. Bagaimana menyikapi tentang “Kemungkinan” yang tentunya belum pasti itu. Dan apakah tetap berpegang pada
sikap “Menerima apa adanya” saja.

Mohon penjelasan dari Bhante.. Terima kasih.

Jawaban:
Dalam salah satu prinsip Ajaran Sang Buddha, dapatlah dijumpai tentang pengertian
‘menerima sebagaimana adanya’ atau HIDUP SAAT INI.

Pengertian ini sering disalahartikan sehingga Agama Buddha dianggap mengajarkan seseorang agar dapat menerima apapun yang terjadi tanpa harus berusaha memperbaiki kondisi yang sedang dialaminya.

Pemahaman seperti ini jelas tidak tepat. Pengertian bahwa seseorang hendaknya dapat menerima sebagaimana adanya sesungguhnya menekankan seseorang untuk dapat menerima KENYATAAN yang sedang terjadi SAAT INI.

Kenyataan yang baik hendaknya dicari sebabnya agar dapat dipertahankan atau dikembangkan.

Sedangkan kenyataan yang buruk harus pula dicari
sebabnya untuk diperbaiki atau dihindari.

Jadi, ‘menerima sebagaimana adanya’ adalah menerima kenyataan dan mempergunakan
kenyataan sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas diri di masa sekarang maupun di masa depan.

* 1. Masa lalu adalah masa kini yang sudah lewat. Seseorang memang harus berusaha untuk menerima kenyataan di masa lalu yang baik maupun buruk. Seseorang tidak akan mampu mengubah masa lalu. Namun, masa lalu haruslah dijadikan sebagai pelajaran.
Segala suka dan duka yang telah terjadi di masa lalu hendaknya dicari penyebabnya.
Penyebab segala kondisi yang menyenangkan hendaknya diulang dan ditingkatkan di masa sekarang. Sebaliknya, penyebab kondisi yang tidak menyenangkan hendaknya diperbaiki atau bahkan dihindari sama sekali.

* 2. Masa sekarang adalah kenyataan. Seseorang juga harus dapat menerima kenyataan sebagaimana adanya untuk ditingkatkan di masa depan.
Seperti yang disampaikan dalam pertanyaan di atas, jika seseorang telah menemukan pilihan yang lebih baik dan cocok daripada tunangannya, maka sikap pertama yang perlu dilakukannya adalah berusaha menerima tunangannya sebagaimana adanya yaitu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kalau ia mampu untuk memperbaiki kualitas mental tunangannya, maka mulai SAAT INI, ia dapat berusaha dengan asih, asah dan asuh agar tunangannya menjadi lebih baik dan hubungan dapat ditingkatkan.

Sebaliknya, jika ia memang sudah tidak mampu untuk mempertahankan pertunangannya, ia bisa saja secara baik-baik dan kekeluargaan menyatakan sikapnya sehingga pertunangan dapat dibatalkan. Ia boleh saja mencari orang lain yang lebih sesuai sebagai tunangannya.
Namun, keputusan ini haruslah dimulai dengan sikap menerima sebagaimana adanya, bukan hanya dengan emosi sesaat.

* 3. Sedangkan, masa depan adalah masa kini yang masih belum datang. Masa depan masih merupakan impian atau harapan. Segala harapan dan impian yang baik, hendaknya dimulai dengan tindak nyata pada saat ini. Sebaliknya, segala impian yang buruk hendaknya mulai diperbaiki saat ini sehingga pada saatnya nanti, kenyataan tidaklah seburuk bayangan.

Seperti yang disampaikan dalam pertanyaan, apabila seseorang merasa bahwa kondisi pekerjaannya saat ini kurang memberikan manfaat untuk jangka panjang, ia boleh saja menjadikan kenyataan saat ini sebagai pelajaran untuk tidak mencari pekerjaan yang serupa. Ia akan berusaha mencari pekerjaan yang memungkinkan menghasilkan kondisi yang lebih baik di masa depan.

Dengan demikian, ‘menerima segalanya sebagaimana adanya’ bukanlah menjadikan
seseorang hidup tanpa rencana dan pasrah dengan segala yang terjadi, melainkan justru menjadikan seseorang selalu belajar dari kenyataan yang dihadapi saat ini untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang pada saat ini, memperbaiki kenyataan di masa lalu dan membangun kenyataan yang baik di masa depan.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI.

(Redaksi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bupati Humbahas Hadiri Penerimaan Sakramen Krisma dan Pelantikan Pengurus Gereja se-Paroki St. Lusia Parlilitan
Perayaan Paskah Oikumene Tapteng, Bupati: Kita Harus Bangkit dan Menjadi Pejuang Pemulihan
Meriah dan Penuh Hikmat, Pemkab Humbahas Rayakan Paskah 2026 Bersama Masyarakat
GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) se-Resort Lintongnihuta Semarakkan Paskah II di Simpang Kawat
Ponpes Tahfizh Darut Taufik Ar-Rahman Gelar Halal Bihalal, Dihadiri Sejumlah Artis Tanah Air
PWI Kota Bogor dan Perumda Tirta Pakuan Gelar Halal Bihalal, Perkuat Sinergi serta Kenalkan Direksi Baru
Kapolsek Balaesang Iptu Ramto L : Warga Jawa Perantau dan Lokal Nikmati Rasa Syukur Lebaran Ketupat di Pantai Sibayu
Khutbah Jumat: Usai Ramadan, Umat Diingatkan Jangan Hanya Rajin Ibadah Saat Bulan Suci
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 19:15 WIB

Bupati Humbahas Hadiri Penerimaan Sakramen Krisma dan Pelantikan Pengurus Gereja se-Paroki St. Lusia Parlilitan

Jumat, 24 April 2026 - 23:06 WIB

Perayaan Paskah Oikumene Tapteng, Bupati: Kita Harus Bangkit dan Menjadi Pejuang Pemulihan

Rabu, 15 April 2026 - 15:15 WIB

Meriah dan Penuh Hikmat, Pemkab Humbahas Rayakan Paskah 2026 Bersama Masyarakat

Senin, 6 April 2026 - 16:47 WIB

GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) se-Resort Lintongnihuta Semarakkan Paskah II di Simpang Kawat

Minggu, 5 April 2026 - 09:07 WIB

Ponpes Tahfizh Darut Taufik Ar-Rahman Gelar Halal Bihalal, Dihadiri Sejumlah Artis Tanah Air

Berita Terbaru

Ekonomi

Panitia HUT ke-14 MASPEKAL Tahun 2026 Resmi Terbentuk

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:23 WIB