Donggala, Sulteng || Sangkakala7.tv
Putra Cirebon Jabar Syaiful Bakri
awalnya tertarik Nominator dalam kegiatan Konservasi/penyelamatan lingkungan khususnya Penyu di mulai tahun 2017, saat itu sang Penerima penghargaan Kalpataru ini, merasa prihatin bahwa di Desa Mavane Tambu, banyak terjadi kegiatan pengambilan Telur Penyu dan perburuan serta penangkapan penyu Dewasa untuk diperjualbelikan, ungkap Drs. Syaiful Bakri MM kepada Awak Media Ini di rumah pribadinya di Desa Mapane Tambu Kecamatan Balaesang Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu,24 April 2024.
Lanjut Drs, Syaiful Bakri, MM mengatakan, Kebiasaan ini terus menerus dibiarkan atau dilakukan oleh masyarakat maka dikhawatirkan pada tahun tahun yang akan datang keberadaan Penyu dan Ekosistemnya akan punah atau hilang dari wilayah Desa Mapane dan Mengakibatkan kerusakan Ekosistem Laut yang berakhir pada berkurangnya Populasi ikan.
Oleh karena itu seoramg penulis (Syaiful Bakri) berusaha mengadvokasi Pemerintah Desa, DPD dan Masyarakat dalam rapat-rapat di Desa untuk memberikan perhatian dan menyusun program kegiatan pada upaya untuk perlindungan Penyu di Pantai Desa Mapane Tambu.
Selain itu ujar Drs. Syaiful Bakri, MM, sebagai Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sindue Tombusabora melakukan tanya jawab dengan para Nelayan di Pantai Mapane Tambu serta Shering pendapat dengan salah seorang Pejabat Bappeda Kabupaten Donggala, dan hasil percakapan dengan Nelayan, berbagai stakeholder dan Advokasi terhadap Pemerintah Desa tentang upaya perlindungan/Konservasi Penyu di Desa Mapane Tambu mendapat respon Positif.

Akhirnya di Tahun 2021 Pemerintah Desa Mapane Tambu memasukan Program Konservasi Penyu atau penangkaran penyu dalam Dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) sebagai Inisiator kegiatan Penangkaran/Konservasi Penyu secara aktif membantu proses penyusunan RAB dan menjadi narasumber dalam Kegiatan Sosialisasi Penangkaran Penyu Guna Pengembangan Desa Wisata 23 September 2021.
Semenjak saat itu kegiatan konservasi terus berjalan dengan Sumber awal pembiayaan berasal dari Pemerintahan Desa Mapane Tambu melalui APDDesa, pribadi, Dinas perikanan dan Kelautan Provinsi Sulteng.
Tahun 2022 saya menulis sebagai inisiator kegiatan konservasi penyu bersama kelompok Masyarakat Peduli Penyu Lentora Desa Mapane Tambu berhasil menetaskan 800 telur penyu Tukik, melepaskannya ke laut dan melepaskan 13 ekor penyu dewasa ke laut setelah diberi tanda oleh kelompok.
Pada Tahun 2023 Saya beserta kelompok berhasil menetaskan 500 ekor Tukik kelaut serta melepaskan 7 ekor penyu dewasa, jadi dalam kurun 2 tahun saya berhasil melepaskan 1300 ekor Penyu dewasa dengan terlebih dahulu memberikan tanda pada penyu Dewasa sekaligus menandakan penyu tersebut menjadi milik kelompok Masyarakat Peduli Penyu Lentora Desa Mapane Tambu yang harus di jaga kelestariannya.

Memperhatikan aktivitas, tentu kami dalam kegiatan ini dan berupaya untuk menyelamatkan penyu.
Bahkan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah untuk menetapkan, penulis (Saya) sebagai salah satu penerima Penghargaan Kalpataru Kategori pengabdi Lingkungan pada Tahun 2024.
Saat Itu, sudah di temukan dan dijaga dengan baik oleh kelompok 14 lubang telur penyu dengan jumlah telur 900 butir yang menunggu proses penetasan dengan masa penetasan sekitar 2 bulan dan saat ini ada sekitar 20 ekor tiap 2 bulan dan saat itu ada sekitar 20 ekor penyu Tukik yang menetas. Kita melihat antusiasme masyarakat dan pemerintah desa Mapane Tambu.
Dalam kegiatan Konservasi penyu selanjutnya, Saya aktif sebagai penulis dan sekaligus menulis penyelamatan Kepunahan Penyu yang ada di Pantai Desa Mapane Kecamatan Balaesang, Donggala dan lewat Media sosial serta melakukan komunikasi dengan Dinas Intansi terkait.
(Fitri)








