Bogor, Jawa Barat || Sangkakala 7
Apa yang dulu dianggap mustahil, kini berdiri nyata. Di kawasan Mega Mendung, Jawa Barat, sebuah hutan organik tumbuh subur berkat ketekunan seorang perempuan bernama Rosita. Perjalanan panjang selama 25 tahun mengubah lahan tandus menjadi kawasan hijau yang kaya akan kehidupan. Kamis, 25/12/2025.
Dua setengah dekade lalu, Rosita membeli sebidang lahan seluas 2.000 meter persegi di Mega Mendung. Kondisinya jauh dari kata ideal. Tanah bekas kebun singkong itu dipenuhi alang-alang, memiliki tingkat keasaman tanah (pH) sangat rendah di kisaran 2 hingga 4, serta sama sekali tidak memiliki sumber mata air. Banyak orang menyebut tanah tersebut sudah “mati”, bahkan tidak layak dihuni oleh cacing tanah sekalipun.
Namun Rosita memiliki keyakinan berbeda. Dengan tekad kuat, ia memulai langkah kecil yang konsisten. Setiap hari, ia naik turun bukit membawa air dari rumahnya. Satu gelas air untuk satu pohon menjadi rutinitas sekaligus perjuangan besar. Tanah dirawat perlahan menggunakan pupuk organik, sementara berbagai pohon keras ditanam berdampingan dengan tanaman pangan agar saling menguatkan dan memulihkan ekosistem.

Dua tahun kemudian, tanda-tanda kehidupan mulai muncul. Tanah yang sebelumnya kering perlahan membaik, dan mata air yang lama menghilang akhirnya kembali mengalir. Namun perjuangan Rosita tidak berhenti pada tantangan alam.
Ia juga harus menghadapi ancaman dari penjarah kayu dan calo tanah yang berupaya menguasai lahannya. Bahkan, Rosita pernah mengalami intimidasi serius, termasuk ancaman senjata tajam. Meski demikian, ia tetap bertahan menjaga hutan yang sedang ia bangun dengan penuh keyakinan.

Kini, hasil kerja keras itu terlihat luar biasa. Lahan yang dahulu kritis telah berkembang menjadi Hutan Organik Mega Mendung dengan luas mencapai 30 hektar. Di dalamnya tumbuh sekitar 44 ribu pohon dari 120 jenis tumbuhan, sekaligus menjadi habitat alami bagi berbagai jenis satwa yang kembali menetap di kawasan tersebut.
Hutan Organik Mega Mendung hari ini berdiri bukan hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai simbol harapan. Bukti bahwa satu perempuan, dengan satu tekad kuat, mampu menghidupkan kembali sebuah bumi kecil yang pernah dianggap mati.
Penulis : Heri
Editor : Priyatna








