Bogor, Jabar || Sangkakala 7
Dugaan kecurangan dalam penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Kali ini, sorotan tertuju pada distribusi MBG bagi siswa sekolah di Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang dinilai tidak sesuai dengan jumlah hari dan porsi yang seharusnya diterima peserta didik. Sabtu, 03/01/2026.
Program MBG tersebut diketahui disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sindang Pala yang berlokasi di Desa Cibening. Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan paket makanan yang diterima anak-anak mereka dinilai jauh dari cukup jika dibandingkan dengan klaim durasi penyaluran.
Salah seorang orang tua siswa mengungkapkan bahwa paket MBG yang diterima disebut-sebut diperuntukkan bagi sembilan hari. Namun, isi paket tersebut hanya terdiri dari dua kotak susu Ultra Milk, dua butir telur, satu bungkus roti tawar, dua roti kecil, dua bungkus keripik tempe, kacang tanah kupas, serta buah-buahan berupa empat buah lengkeng, satu buah pir, satu jeruk, dan satu mangga.
“Kalau disebut untuk sembilan hari, jelas tidak masuk akal. Bukan soal jenis makanannya, tapi jumlahnya yang sangat tidak sebanding,” ujar salah satu wali murid.
Persoalan ini kian memanas setelah sejumlah orang tua menyampaikan keberatan melalui grup WhatsApp MBG. Bukannya mendapat penjelasan yang menenangkan, beberapa orang tua justru mengaku menerima respons yang tidak pantas, termasuk kata-kata bernada kasar yang diduga dilontarkan oleh istri pemilik dapur serta oknum relawan SPPG.
Setelah perdebatan berlangsung, pihak SPPG akhirnya memberikan klarifikasi. Ardi, perwakilan SPPG Sindang Pala, menyatakan bahwa paket MBG tersebut sejatinya diperuntukkan untuk lima hari, bukan sembilan hari seperti yang sebelumnya dipahami oleh orang tua siswa. Ia juga menegaskan bahwa menu yang disalurkan telah sesuai dengan rekomendasi ahli gizi.
Meski demikian, klarifikasi tersebut tidak sepenuhnya meredam kekecewaan para wali murid. Mereka menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada jenis menu, melainkan pada kuantitas, kejelasan informasi, serta transparansi penyaluran.
“Kalau memang untuk lima hari, seharusnya disampaikan sejak awal. Jangan sampai orang tua merasa dibohongi,” tegas salah satu wali murid lainnya.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari pemerhati Program MBG, Nofaldi. Ia menilai kejadian tersebut berpotensi mencederai tujuan mulia program nasional yang dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah.
“MBG adalah program strategis. Jika pelaksanaannya tidak transparan dan menimbulkan polemik di masyarakat, kepercayaan publik bisa runtuh. Pemerintah perlu turun tangan dan melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak dinas terkait mengenai tindak lanjut atas dugaan ketidaksesuaian penyaluran MBG di Desa Cibening.
Penulis : Heri
Editor : Priyatna










