JAKARTA | Sangkakala.tv –
Mimbar Agama Budha :
Marah merupakan sikap batin yang menolak atas ketidaksinkronan antara apa yang diharapkan dengan apa yang dihadapinya.
Ketika kemarahan menguasai seseorang, hanya kebutaan dan kegelapan pekat yang ada pada saat itu.
Dalam ajaran Buddha, ada 12 (dua belas) cara untuk menangani amarah :
*1. Bangun KOMUNIKASI bukan kemarahan.*
Tegas tapi bukan kebencian. Berorientasi pada tujuan (goal oriented) dengan cara yang bijak, taktis dan cerdik.
Contoh : Saat menghadapi kriminal/penjahat yang mengancam keselamatan dan tidak bisa diajak kompromi, kita boleh membentaknya untuk menakuti atau menghalau mereka, tanpa kebencian. Kalau terpaksa “melumpuhkannya”, hanya sekedar, “melumpuhkannya” tanpa kebencian atau niat jahat.
*2. Kembangkan Sati (perhatian/ kewaspadaan), perenungan Dhamma, atau Welas Asih setiap saat.*
Mengembangkan sati, melaksanakan Vipassana Bhavana, penuh kesadaran terhadap gerak-gerik jasmani dan batin (perasaan & pikiran) yang timbul lenyap dan berubah-ubah seenaknya, tidak memuaskan, tidak bisa diandalkan, bukan diri, bukan kita, bukan milik kita; semata fenomena dengan sifat, prilaku dan kondisi penunjangnya sendiri yang khas dan alami (Anicca, Dukkha, Anatta).
*3. MEMAKLUMI*
Bahwa kita dan para makhluk pada umumnya masih diliputi kegelapan batin AVIJJA dalam bentuk LOBHA (keserakahan, kehausan), DOSA (kebencian) dan MOHA (ketidaktahuan, kelengahan).
Juga dengan mengingat bahwa sesungguhnya semua makhluk diliputi penderitaan, Anicca, Dukkha dan Anatta ; diharapkan kita bisa menumbuhkan welas asih, rasa maklum dan pengampunan atas “keanehan, ketidakmasuk-akalan” yang ada pada mereka.
*4. Mengingat Budi Baik*
Mengingat kebaikan yang pernah dilakukan orang yang sedang membuat kita marah.
*5. Mengingat Akibat Buruk dari kemarahan*
Akibat buruk pada diri sendiri, orang yg kita cintai, bahkan juga musuh kita. (Akibat buruk di masa sekarang maupun yang menanti di masa depan)
*6. YONISO MANASIKARA*
Mengarahkan pikiran pada hal-hal yang bermanfaat dan positif, tidak memberi perhatian atau mengingat hal-hal yang menimbulkan kemarahan, merenungkan Tilakkhana, Berkah Utama dan 8 Kondisi Duniawi
(Note : Sabar dan memiliki batin yang tak mudah tergoncangkan oleh suka duka, untung rugi, dipuji dicela, terkenal tak terkenal termasuk berkah utama)
*7. Diam atau berkata dengan intonasi yang lembut, dan memancarkan metta karuna*
Hal ini dapat meredakan kemarahan seseorang
Setidaknya bertahan untuk diam, menunda mengambil keputusan yang “gegabah” saat sedang marah, membuat kita tidak menyesal kemudian.
*8. Merenungkan sifat mulia Buddha, Dhamma, Sangha*
Merenungkan kebijaksanaan sempurna, welas asih, kesabaran dan pengampunan tanpa batas, kebajikan dan kelurusan atau kemurnian tanpa cela, dsb.
*9. Merenungkan bahwa diri sendiri dan setiap makhluk adalah pewaris karmanya masing-masing.*
Laksana orang yang baru sembuh dari penyakit menahun atau yang baru terbebas dari hutang setelah sekian lama, kemudian dia bersorak, bersyukur, merasa gembira, lega, bersemangat untuk melakukan hal-hal bermanfaat yang selama ini ingin ia kerjakan, bersemangat untuk memulai kembali segalanya dengan cara yg lebih cerdik, bijak, dan waspada; begitulah hendaknya kita bersikap saat menghadapi akibat karma buruk yang tengah berbuah.
*10. Merenungkan bahwa setiap makhluk suatu hari pasti akan mati.*
*11. Bergaul dengan para bijaksana, gemar belajar dan mencintai Dhamma.*
*12. Melatih Anapanasati atau Metta Bhavana*
SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI
(Redaksi)








