* Cerita Seorang Ayah Tentang Anak dan Kupu-Kupu *

- Redaktur

Selasa, 23 November 2021 - 06:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Sangkakala.tv –
Mimbar Buddha :

Pagi yang sejuk terlihat duduk seorang lelaki tua diberanda teras rumahnya. Paras wajahnya bergaris tegas, berahang sedikit mengotak menandakan ia seorang lelaki tua yang semasa mudanya adalah pekerja keras.

Dibalik itu, ia adalah lelaki yang terlihat sejuk dan lembut terlihat dari sorot mata dan simpul senyumnya yang damai. Lelaki tua itu ditemani seorang wanita sukses dan cantik, terlihat dari dandanan bermerek branded, postur tubuh ideal dan kecemerlangan paras muka dan kulitnya.

Ternyata mereka adalah ayah dan anaknya, yang kelihatan sedang membicarakan sesuatu yang penting. 

Ayah : Wahai anakku, tahukah engkau nama hewan berwarna warni yang hinggap dikelopak bunga ditaman rumah kita itu ? Kata si ayah lembut sambil menunjukan jarinya ke arah hewan tersebut.

Anak : Tahu ayah, itu Kupu-kupu kata si anak dengan lembut juga.

Ayah : Berdiam sejenak dan setelahnya bertanya kembali. Anakku, tahukah engkau hewan apa yang hinggap dikelopak bunga ditaman rumah kita itu ? Kembali si ayah bertanya lembut sambil menunjukan jarinya ke arah hewan tersebut.

Anak : Ayah, itu Kupu-kupu kata si anak dengan nada kurang lembut.

Ayah : Berdiam sejenak kembali sambil menyeruput kopi dihadapannya, dan setelahnya bertanya kembali.

Anakku, tahukah engkau hewan apa yang hinggap dikelopak bunga ditaman rumah kita itu ? Kembali si ayah bertanya lembut sambil menunjukan jarinya ke arah hewan tersebut.

Anak : Ayah, tadi sudah saya jawab bahwa itu bernama Kupu-kupu kata si anak. Jawab si anak mulai kesal.

Ayah : Mendapat jawaban itu, si ayah kembali terdiam sejenak dan kembali bertanya hal yang sama.

Anakku, tahukah engkau hewan apa yang hinggap dikelopak bunga ditaman rumah kita itu ? Kembali si ayah bertanya lembut sambil menunjukan jarinya ke arah hewan tersebut.

Anak : Sambil berdiri, si anak menjawab sambil membentak. Ayah ! ! ! ! Apa sih yang ayah mau, kenapa bertanya berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama.
Saya sudah menghabiskan waktu hanya untuk pertanyaan seperti ini.
Sudah saya jawab itu Kupu-kupu ! ! ! ! Sambil menghempaskan tangan ke meja di depannya.

Ayah : Tampak raut wajah si ayah sedih. Tunggu sebentar di sini ya nak, sebentar saja. Lalu ia bangkit dan beranjak masuk ke dalam rumah. 

Tak lama berselang, ia pun membawa sebuah album usang berdebu di tangan kanannya.
Ia membuka sebuah foto di dalam album. Ia perlihatkan satu foto ketika ia masih muda sambil menggendong seorang gadis kecil.

Ayah : Anakku, ketika engkau kecil, dan persis di teras rumah ini engkau bertanya hal yang sama.
Engkau bertanya hewan apa yang hinggap di kelopak bunga itu.

Ayah menjawab itu Kupu-kupu. Kembali engkau bertanya dan Ayah jawab dengan lembut itu Kupu-kupu.

Berkali-kali engkau bertanya hal yang sama, tetap ayah jawab dengan lembut penuh cinta bahwa itu adalah Kupu-kupu. Kembali engkau bertanya dan kembali ayah jawab atas keinginan tahuanmu bahwa itu Kupu-kupu.

Begitu juga dengan hal lain, engkau selalu bertanya hal yang sama dan selalu ayah jawab dengan penuh cinta.
Karena ayah tahu, itu penting bagimu sebagai ilmu dan keingintahuan soal dunia sebelum engkau masuk ke bangku sekolah.

Ayah : Tapi, hari ini. Ketika ayah baru bertanya empat kali dengan pertanyaan yang sama, engkau tersulut api kemarahan.
Kata si ayah dengan sedih.

Anak : Tersungkur bersujud dan mencium kaki si ayah. Dengan mata berkaca dan raut wajah penyelesalan mendalam si anak pun berkata ; Ayahhhhhh . . . . . Maafkan anakmu yang tak tahu diri ini.

Ayah : Ayah memegang pundak si anak. Anakku, bangkitlah. Tak perlu engkau meminta maaf, sebelum engkau berbuatpun sudah ayah maafkan.

Mengapa ayah bertanya itu berulang kali, ini untuk mengharapkan nanti ketika ayah Menghadapi Pintu KEMATIAN, agar engkau dengan penuh cinta Kasih Dan Kesabaran Dapat membacakan ditelinga ayah Mantra Omitofo berulang2 Kali tanpa pernah letih.

Cerita Ini Menunjukkan Kesabaran Orang Tua Terhadap Anak Nya Tiada Batas, Sedangkan Kesabaran Seorang Anak Terhadap Orang Tuanya Sangat Terbatas.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI.

(Redaksi)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban
Pengurus BKS Pemuda/i GKPI Wil.VII Humbahas, Samosir, Toba dan Taput Periode 2025-2030
Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan
Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029
Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga
Warga Kecewa Kondisi Baru Masjid Nurul Wathon Pakansari, Fasilitas Dinilai Banyak Rusak
Wakil Bupati Tapteng Berangkatkan Calon Jemaah Haji Kloter 14 Embarkasi Medan
55 Jamaah Calon Haji Asal Tapteng Diberangkatkan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:57 WIB

Tebar Kebaikan, PLTU Serahkan Hewan Kurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:23 WIB

Pengurus BKS Pemuda/i GKPI Wil.VII Humbahas, Samosir, Toba dan Taput Periode 2025-2030

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Humbang Hasundutan Hadiri Festival Paduan Suara Antar Gereja se-Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:22 WIB

Bupati Humbahas Hadiri Pelantikan Pengurus WKRI Cabang Humbang Hasundutan Masa Bakti 2026-2029

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:58 WIB

Jumat Berkah, TNI-Polri dan Satpol PP Tebar Kepedulian untuk Warga

Berita Terbaru