BANTEN | Sangkakala.tv –
Mimbar Islam :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
*Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)*.[At-Takatsur/102:1-8]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
*“Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya, telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya”*. (Tafsir Ibnu Katsir)
At-Takâtsur (bermegah-megahan) mencakup berbangga dengan banyaknya harta, qabilah, kedudukan, ilmu, dan semua yang memungkinkan terjadi saling berbangga dengannya. Ini ditunjukkan oleh perkataan pemilik sebuah kebun kepada kawannya :
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
*Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat* [Al-Kahfi/18 : 34. Tafsir Juz ‘Amma)
Makna ”telah melalaikan kamu” yaitu, telah menyibukkan kamu sehingga kamu lalai dari yang lebih penting, yaitu dzikrullah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Perkataan ini ditujukan kepada seluruh umat, namun itu dikecualikan orang yang disibukkan oleh perkara-perkara akhirat dari perkara-perkara dunia, dan mereka ini sedikit”. [Tafsir Juz ‘Amma)
Faedah ayat :
1. Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya, dan keindahannya, telah melalaikan banyak manusia dari mencari akhirat.
2. Manusia itu memiliki watak bermegah-megah dengan banyaknya kenikmatan dan harta di dunia sampai kematian menjemputnya.
3. Anjuran banyak mengingat kematian, karena barapapun harta yang berhasil dikumpulkan di dunia ini pasti akan dia tinggalkan dengan datangnya kematian.
4. Larangan bermegah-megah urusan dunia.
5. Urgensi ilmu agama. Karena dengan ilmu yang yakin manusia mengetahui bahwa hikmah penciptaan adalah untuk beribadah kepada Allâh semata, sehingga dia tidak lalai dan bermain-main saja di dunia ini.
6. Manusia benar-benar akan melihat neraka pada hari kiamat.
7. Manuisa akan ditanya tentang seluruh kenikmatan dari Allâh pada hari kiamat, tentang syukurnya dan keyakinannya kepada hari kiamat.
(Majid)








