JAKARTA | Sangkakala.tv –
Mimbar Buddha :
Menurut agama Buddha, mimpi bisa timbul karena 4 sebab :
1. Pubba-nimita :
Perbuatan sehari-hari yang baik maupun yang buruk dapat menimbulkan kesadaran untuk bermimpi berkenaan perbuatan tersebut.
2. Citta-avarana :
Kesadaran yang melekat dalam hal-hal yang berkesan dapat menimbulkan mimpi berkenaan dengan hal-hal tersebut.
3. Dewa-sanharana :
Dewa yang memberikan mimpi bila org tersebut ada kamma baiknya suatu petunjuk.
4. Dhatu :
Unsur dalam tubuh yang tidak normal dapat menimbulkan mimpi. Tiga organik : Angin, empedu dan lendir.
Tidak semua mimpi mempunyai makna. Mimpi yang mempunyai makna adalah mimpi yang ditimbulkan oleh kekuatan dewa (bebas dari pengaruh jasmaniah dan rohaniah orang yang bersangkutan) biasanya orang tersebut berjalan dalam dhamma.
– Semua pikiran yang tercipta tersimpan dalam pikiran bawah sadar kita dan beberapa diantaranya sangat mempengaruhi pikiran sesuai dengan kecemasan kita.
Saat kita tidur, beberapa dari pikiran ini diaktifkan dan muncul sebagai ‘gambar’ yang bergerak.
Hal ini terjadi karena selama tidur, kelima indera yang merupakan kontak kita dengan dunia luar ber istirahat sementara.
Pikiran bawah sadar kemudian bebas menjadi dominan dan ‘memainkan ulang’ pikiran yang tersimpan. hasutan internal dan eksternal yang menimbulkan sejumlah ‘pikiran visual’ yang ‘terlihat’ oleh pikiran pada saat istirahat.
Faktor internal adalah hal yang mengganggu tubuh (misalnya : makanan berat yang membuat orang tidak mengalami tidur nyenyak atau ketidak seimbangan dan friksi antara unsur penyusun tubuh)
Hasutan eksternal adalah saat pikiran terganggu (Walaupun orang yang tidur tidak menyadarinya) oleh fenomena alami seperti cuaca, angin, dingin, hujan, desir dedaunan, derit cendela, dan lain-lain.
Pikiran bawah sadar bereaksi terhadap gangguan ini dan membentuk gambar untuk ‘menjelaskan’ hal itu.
Pikiran mengakomodasi iritasi itu sehinga orang yang bermimpi dapat terus tidur tanpa terganggu. mimpi ramalan, hal ini jarang dialami dan hanya jika ada kejadian mendatang yang sangat berhubungan dengan si pemimpi.
Ajaran Buddha mengajarkan bahwa disamping dunia nyata yang dapat kita alami, ada para dewa yang ada di alam lain atau roh yang terikat pada bumi ini dan tidak dapat kita lihat. Mereka mungkin kerabat atau teman kita yang telah meninggal dan telah terlahir kembali.
Mereka mempertahankan hubungan dan ikatan batin dengan kita.
Ketika umat Buddha melimpahkan jasa kepada orang meninggal, mereka mengundang para dewa untuk berbagi kebahagiaan yang terkumpul dalam jasa itu.
Jadi mereka mengembangkan hubungan mental dengan orang yang meninggal.
Para dewa sebaliknya senang dan mereka mengamati kita dan menunjukan sesuatu dalam mimpi jika kita menghadapi masalah besar tertentu dan mencoba melindungi kita dari bahaya.
Pesan ini diberikan dalam istilah simbolis (seperti negatif foto) dan harus ditafsirkan dengan keahlian dan kepandaian.
– Pikiran kita adalah simpanan semua energi kamma yang terkumpul pada masa lalu. Kadang-kadang, saat suatu kamma akan matang (yaitu saat perbuatan yang kita lakukan pada kehidupan lampau atau awal kehidupan kita, akan mengalami akibatnya), pikiran yang beristirahat selama tidur dapat memicu suatu ‘gambar’ tentang apa yang akan terjadi.
Sekali lagi, tindakan yang akan datang haruslah sesuatu yang penting dan sangat kuat sehinga pikiran ‘melepas’ energi ekstra itu dalam bentuk mimpi yang gamblang.
Mimpi semacam itu sangat jarang terjadi dan hanya pada orang tertentu dengan jenis pikiran khusus.
Tanda-tanda akibat kamma tertentu juga muncul dalam pikiran kita pada saat terakhir ketika kita akan meninggalkan dunia ini.
Mimpi terjadi hanya pada tahap tidur ringan yang dikatakan seperti tidur pada seekor monyet. Makhluk yang dapat bermimpi adalah makhluk yang masih mempunyai kamaraga (nafsu indria) dan kepuasan dalam nafsu.
Makhluk yang terbebas dari kamaraga seperti Rupa-Brahma, Arupa-Brahma, Anagami dan Arahat tidak dapat bermimpi. karena pikiran mereka telah ‘ditenangkan ‘ secara permanen dan tidak dapat diaktifkan menjadi mimpi, mereka telah menghilangkan semua energi nafsu mereka secara sempurna dan tidak ada ‘sisa’ energi kecemasan atau nafsu
ketidakpuasan untuk mengaktifkan pikiran untuk menghasilkan mimpi.
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.
SALAM ROMO ASUN GOTAMA.
WASEKJEND DPP WALUBI.
(Redaksi)








