Dinilai Janggal, Alasan Kebakaran PLTU Labuhan Angin Diminta Dikaji Ulang

- Redaktur

Selasa, 3 Juni 2025 - 19:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : PLTU Labuhan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng. (Sangkakala 7/Ist)

Tapteng, Sumut || Sangkakala 7
Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan menggelar aksi unjuk rasa ke Kantor DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Senin (2/6/2025). Hal ini sehubungan dengan peristiwa kebakaran yang terjadi di PLTU Labuhan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng, pada Kamis (8/5/2025) lalu.

Dalam tuntutannya, mereka meminta Manager PT PLN Indonesia Power UBP Labuhan Angin dicopot. Massa juga meminta pemeriksaan secara hukum dan juga secara eksternal penyebab kebakaran secara menyeluruh, serta memeriksa vendor yang terlibat dalam pemeliharaan.

Anggota DPRD Tapteng, dari fraksi Partai Gerindra, Madayansyah Tambunan, membenarkan adanya aksi tersebut.

“Benar, kemarin massa berdemo ke Kantor DPRD Tapteng, karena adanya kecurigaan kejanggalan terhadap insiden kebakaran beberapa waktu lalu,” kata Madayansyah kepada wartawan, Selasa (3/6/2025).

Menurut Madayansyah, beberapa hal kejanggalan penyebab kebakaran seperti, dugaan kebakaran disebabkan karena turbin yang overspeed.

“Selain dugaan adanya overspeed, ada juga dugaan kelalaian operator didalam pengoperasiannya. Padahal kebakaran terjadi saat pengerjaan overhaul turbin baru selesai dilaksanakan. Patut kita duga, vendor yang mengerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi,” ujarnya.

Untuk itu, kata Madayansyah, pihak DPRD Tapteng nantinya akan melanjutkan tuntutan ke Rapat Dengar Pendapat (RDP) agar jelas duduk persoalannya.

Senada, Anggota DPRD Tapteng dari fraksi NasDem, Antonius Hutabarat, menyoroti sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PLTU Labuhan Angin. Dinilai Sistem K3 Di PLTU Labuan Angin bobrok, karena banyak juga masyarakat Tapteng yang nyawanya terancam disana.

“Ini semua karena kejadian beruntun, mulai dari dugaan kecelakaan kerja yang mengakibatkan kematian, sampai terbakarnya turbin PLTU yang katanya disebabkan petir. Perusahaan negara sekelas Indonesia Power tidak memperhatikan alat anti petir, itu aneh dan patut kita pertanyakan,” ucapnya.

Ketua Komisi A DPRD Tapteng ini berharap, pihak asuransi yang ingin mengklaim kebakaran, agar mengkaji ulang kembali kebijakan, sehingga tidak ada terjadi persoalan kedepan.

Anggota DPRD Tapteng lainnya, Joko Pranata Situmeang menegaskan, alasan yang tidak komperhensip dibuat untuk mencairkan klaim asuransi. Ia menduga ada unsur kesengajaan dan kelalaian di PLTU, hingga mengakibatkan kerugian ratusan milliar rupiah.

“Makanya sebelum ini terang, kita minta pihak asuransi untuk mengkaji ulang jika ada niat mencairkan klaimnya, agar tidak menjadi persoalan kedepannya,” tukas politisi berlatar belakang pengacara tersebut.

Seperti diketahui, peristiwa kebakaran terjadi di PLTU Labuhan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng, pada Kamis (8/5/2025) lalu.

Sekretaris Perusahaan PLN Indonesia Power, Agung Siswanto mengatakan, penyebab kebakaran di PLTU Labuhan Angin disinyalir akibat sambaran petir dengan intensitas tinggi yang memicu ledakan lokal di salah satu bagian fasilitas.

“Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Seluruh personel yang bertugas dalam keadaan selamat, dan prosedur tanggap darurat telah dijalankan dengan cepat dan tepat,” kata Agung.

Kendati demikian, banyak komentar warganet yang meragukan petir sebagai penyebab kebakaran di PLTU Labuhan Angin.

“Gak logika, ini pasti percikan arus pendek listrik. Mustahil di dalam gedung petir masuk. Coba konfirmasi Bongot Sinaga, dia yang ahli dalam menjamin kelengkapan operasional berjalan dengan baik di unit PLTU Labuhan Angin. Sekelas PLTU bisa terjadi hal seperti ini sangat diragukan kinerja seorang Bongot Sinaga selaku kepala operasional dan perlengkapan,” ujar akun facebook Pro Kontra.

Warganet lainnya, pemilik akun Marubamora, juga meragukan penyebab kebarakan akibat disambar petir.

“PLTU Labuan Angin sistim grounding-nya standard terbaik, tidak mungkin disambar petir,” tulisnya.

Demikian halnya dengan pemilik akun lainnya, yakni Bizmar Nadangol Hutagalung.

“Besar kemungkinan dari batu bara,” ujarnya.

Anggiat Par Tambunan, pemilik akun lainnya, juga mempertanyakan hal tersebut.

“Kapan petir pada Kamis (8/5) malam, cuman hujan,” katanya.

Bahkan ada warganet yang memberikan komentar, seakan-akan ia mewakili petir yang terkesan dijadikan kambing hitam.

Facebook Comments Box

Penulis : Ali Akbar Zega

Editor : Priyatna

Berita Terkait

KADES KOTO JAYO DIDUGA JADI PEMAIN PETI, ALAT BERAT RHINO KUPAS TANAH TAK BERTUAN SELUAS 1 HEKTARE
Bogor Memanas! 300 Massa PPAK Siap Geruduk Istana Bogor dan Tol Baranangsiang Terancam Ditutup ‎
Sopir Angkot Bogor Demo, Tolak Perda dan Perwali yang Dinilai Bikin Sengsara ‎
5.150 Pengemudi Ojol Ikuti Gebyar Keselamatan Lalu Lintas Korlantas Polri di Serpong
Polda Sulteng Dalami Temuan 22 Excavator di Lokasi Perkebunan, Warga Duga Aktivitas PETI Buol
Galian Pasir di Purba Baringin Diduga Tak Berizin, Warga Minta Pemkab Humbahas Turun Tangan
Babi Mati Dibuang ke Sungai, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Langkahnya Tak Sempurna, Tanggung Jawabnya Tetap Utuh Kisah Paskibraka Tarabintang
Berita ini 169 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 22:25 WIB

KADES KOTO JAYO DIDUGA JADI PEMAIN PETI, ALAT BERAT RHINO KUPAS TANAH TAK BERTUAN SELUAS 1 HEKTARE

Senin, 14 September 2026 - 08:07 WIB

Bogor Memanas! 300 Massa PPAK Siap Geruduk Istana Bogor dan Tol Baranangsiang Terancam Ditutup ‎

Kamis, 3 September 2026 - 16:46 WIB

Sopir Angkot Bogor Demo, Tolak Perda dan Perwali yang Dinilai Bikin Sengsara ‎

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 05:41 WIB

5.150 Pengemudi Ojol Ikuti Gebyar Keselamatan Lalu Lintas Korlantas Polri di Serpong

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Polda Sulteng Dalami Temuan 22 Excavator di Lokasi Perkebunan, Warga Duga Aktivitas PETI Buol

Berita Terbaru