Sukabumi, Jabar || Sangkakala 7
“Sukabumi ada pertambangan sebesar ini?” Kalimat spontan itu terucap saat pertama kali melihat hamparan alat berat, jalan tambang, dan aktivitas yang begitu sibuk di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas, Jawa Barat. Di balik perbukitan hijau yang selama ini dikenal tenang dan alami, berdiri operasi pertambangan emas berskala besar yang mengubah wajah kawasan tersebut secara drastis. Minggu,11/01/2026.
Dua perusahaan, yakni PT Wilton Wahana Indonesia dan PT Borneo, diketahui tengah melakukan eksploitasi bijih emas di wilayah ini. Aktivitas pertambangan yang masif menghadirkan ironi tersendiri, lantaran lokasi tersebut berada di dalam kawasan Geopark Ciletuh–Palabuhanratu, sebuah taman bumi yang telah diakui dunia sebagai UNESCO Global Geopark.
Geopark Ciletuh–Palabuhanratu bukan sekadar bentang alam biasa. Kawasan ini merupakan warisan geologi yang menyimpan sejarah bumi ratusan juta tahun. Lanskapnya dikenal dengan perbukitan hijau, pantai-pantai mempesona seperti Pantai Palangpang, air terjun megah seperti Curug Puncak Manik, serta kekayaan budaya yang masih hidup, di antaranya Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar yang teguh memegang tradisi leluhur.
Selama ini, geopark dikelola dengan prinsip konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan, agar alam tetap lestari, masyarakat lokal berdaya, dan generasi mendatang masih dapat menikmati serta mempelajari kekayaan bumi tersebut. Namun, di tengah semangat pelestarian itu, muncul pertanyaan yang mengusik banyak pihak: bagaimana nasib kawasan konservasi jika aktivitas eksploitasi sumber daya alam dilakukan secara besar-besaran di dalamnya?
Pertambangan memang menjanjikan keuntungan ekonomi, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan pemasukan daerah. Namun, geopark bukanlah sekadar lahan kosong. Ia adalah ruang hidup, ruang belajar, dan ruang warisan. Ketika tanah digali, bukan hanya bijih emas yang terangkat, tetapi juga keseimbangan ekosistem, sumber air, serta masa depan masyarakat sekitar yang ikut dipertaruhkan.
Cerita ini bukan tentang menolak pembangunan, juga bukan tentang memusuhi industri. Ini adalah soal mencari titik temu antara kebutuhan manusia dan batas alam. Tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan tanah yang telah diakui dunia sebagai warisan bersama umat manusia.
Pada akhirnya, emas bisa habis ditambang dan digantikan dengan nilai ekonomi lain. Namun jika alam rusak, yang hilang bukan hanya pemandangan indah, melainkan identitas, kehidupan, dan hak generasi mendatang. Di situlah pertanyaan terbesar itu menggantung: apakah kita sedang membangun masa depan, atau justru menggali kehancurannya sendiri?
Penulis : KB-040
Editor : Priyatna








