Kabupaten Bekasi || Sangkakala7.tv
Adikarya Parlemen :
H.Irpan Haeroni,SE anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat.
Penyebab pengangguran adalah adanya ketidakseimbangan antara pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang meningkat setiap tahunnya.
H.Irpan Haeroni,SE anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat mengatakan, angka pengangguran lulusan SMA/SMK masih terbilang tinggi, untuk menekan angka pengangguran itu diperlukan sinergitas jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) dengan Pemerintah Daerah, Senin (18/09/2023).
Provinsi Jawa Barat merupakan primadona bagi investor perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun sangat di sayangkan, “tingginya investasi itu nyatanya tidak mengubah angka pengangguran secara signifikan.”
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sepanjang tahun 2022 angka investasi yang terserap di Jawa Barat mencapai Rp174,6 triliun, angka itu terhitung sebagai angka investasi tertinggi nasional dengan persentase 14,46 persen dari total realisasi investasi nasional.
Provinsi Jawa Barat adalah wilayah Industri, wilayah yang mendapatkan investasi terbesar, tapi penganggurannya tertinggi yakni nomor dua di Indonesia.
Rata-rata angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat di tahun 2023 sebanyak 7,89 persen atau 2,03 juta masyarakat pengangguran.
Irpan Politisi dari Partai Gerindra menuturkan, ada 6 (enam) faktor penyebab pengangguran :
1. Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang meningkat setiap tahunnya
2. Ketidakmampuan individu untuk memenuhi kualifikasi pekerjaan yang dibutuhkan.
3. Perubahan teknologi dan pola kerja.
4. Kondisi perekonomian yang tidak stabil.
5. Keterbatasan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan.
6. Persaingan yang ketat di pasar kerja.
Dengan memahami penyebab pengangguran tersebut, maka dapat dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi atau meminimalkan faktor-faktor tersebut dan menciptakan kondisi yang lebih baik dalam dunia kerja, tutup Irpan.
(R-001)







