Adikarya Parlemen :
H.Irpan Haeroni.SE, Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra Persatuan.
Kabupaten Bekasi || Sangkakala7.tv
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, H.Irpan Haeroni.SE mengatakan, kasus HIV/AIDS di Jawa Barat melonjak tajam, penularan HIV/AIDS masih saja bisa terus terjadi dan bertambah, karena orang-orang yang melakukan aktivitas berisiko, seperti seks bebas atau bergonta-ganti pasangan, Jumat, 16/02/2024.
Berdasarkan Data Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA), kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat melonjak tajam, kasus HIV di Jabar ada sebanyak 7.383 kasus dalam periode Januari – September 2023, sedangkan kasus AIDS tercatat sebanyak 1.617 kasus.
Kota Bandung merupakan daerah penyumbang tertinggi angka positif AIDS yakni dengan 190 kasus, disusul Kota Bogor 139 kasus dan Kabupaten Indramayu dengan 135 kasus.
Sebanyak 700.938 dilakukan pemeriksaan, kasus HIV di Provinsi Jabar tercatat ada sebanyak 7.383 kasus, Kota Bandung ada di urutan teratas kasus HIV yaitu 747, disusul Kota Bekasi 689, Kabupaten Bekasi 662.
Jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat bisa saja akan terus meningkat. Kita harus segera mengantisipasinya, yang dinyatakan positif tertular HIV harus menjalani terapi ARV dan tidak melakukan hal beresiko lagi, maka penularan akan tertahan, karena tidak akan ada lagi penularan, tegasnya Irpan.
Irpan Haeroni menuturkan, kemungkinan orang-orang yang sudah terinfeksi HIV namun tidak menyadarinya dan tetap melakukan aktivitas berisiko sehingga bisa menularkan pada orang lain.
Lanjut Irpan Haeroni Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, seorang suami melakukan hubungan dengan perempuan lain yang tertular HIV tapi dia tidak mengetahuinya. Kemudian Sisuami berhubungan badan dengan istrinya, tentu saja istrinya bisa tertular HIV. Jika kemudian istrinya hamil, kemungkinan anaknya positif tertular HIV juga, ungkapnya.
Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra Persatuan Irpan Haeroni berharap, Peran dan Komitmen Pemerintah Provinsi Kabupaten/Kota segera mengambil langkah-langkah konkrit, bersama berbagai pihak termasuk pegiat HIV/AIDS.
Pencegahan penyebaran HIV/AIDS harus terus di sosialisasikan dalam upaya melakukan pencegahan, dan menggencarkan terapi ARV (antiretroviral).
Antiretroviral (ARV) merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.
Irpan Haeroni mengatakan, Peran media sangat penting untuk menyebarkan informasi selengkap mungkin dan akurat tentang bahaya nya HIV/AIDS, karena tidak sedikit warga yang belum paham tentang bahaya HIV/AIDS, tutupnya.
(R-001)







