Pernyataan Wakil Bupati Soal Lip Service, Ego Sektoral, dan Saltum Jadi Sorotan Publik

- Redaktur

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Humbahas, Sumut || Sangkakala 7
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23, Kabupaten Humbang Hasundutan yang mengusung tema “Humbang Hasundutan KEREN” tidak hanya menjadi momentum perayaan pembangunan daerah, tetapi juga memunculkan diskusi di tengah masyarakat terkait pernyataan dan penampilan Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Junita Rebeka Marbun.

Dalam wawancara yang kemudian beredar luas di media sosial, Wakil Bupati mengajak seluruh perangkat daerah agar penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya sebatas lip service, melainkan diwujudkan melalui kerja nyata, Selasa, 28/07/2026.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengesampingkan ego sektoral serta memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun Kabupaten Humbang Hasundutan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati juga menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara utuh rangkaian kegiatan HUT ke-23 Kabupaten Humbang Hasundutan dan mengaku tidak diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan peringatan hari jadi daerah tersebut.

Pernyataan tersebut turut menjadi perhatian publik dan memunculkan beragam tanggapan di media sosial.

Namun, pada momentum yang sama, penampilan Wakil Bupati menjadi perhatian publik karena mengenakan busana yang berbeda dengan Bupati dan sebagian besar pejabat lainnya yang memakai pakaian sesuai tema peringatan HUT ke-23.

Mengenai hal tersebut, Wakil Bupati menjelaskan bahwa dirinya mengalami saltum (salah kostum) karena tidak ada ajudan yang mengingatkannya mengenai pakaian yang akan dikenakan.

Kondisi tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai bahwa istilah “lip service”, “mengesampingkan ego sektoral”, pernyataan tidak mengetahui dan tidak diikutsertakan dalam kegiatan HUT, serta pengakuan mengalami “saltum” menjadi pembahasan publik karena muncul dalam satu rangkaian peristiwa pada peringatan HUT ke-23 Kabupaten Humbang Hasundutan.

Sejumlah warga berpendapat bahwa pesan tentang kerja nyata, disiplin, dan semangat kebersamaan idealnya juga tercermin dalam sikap dan keteladanan pada setiap agenda resmi pemerintah, termasuk kepatuhan terhadap tata busana yang telah ditetapkan.

Menurut mereka, hal-hal sederhana seperti disiplin dalam mengikuti ketentuan acara dapat menjadi simbol kekompakan dan penghormatan terhadap marwah peringatan hari jadi daerah.

Di sisi lain, terdapat pula pandangan bahwa kekeliruan dalam berpakaian maupun dinamika internal dalam penyelenggaraan kegiatan tidak serta-merta mengurangi substansi pesan yang disampaikan mengenai pentingnya membangun pemerintahan yang kolaboratif, bebas dari ego sektoral, dan berorientasi pada pelayanan nyata kepada masyarakat.

Namun, berbagai pernyataan tersebut dinilai perlu mendapat penjelasan dari pihak-pihak terkait agar tidak menimbulkan beragam spekulasi di tengah masyarakat.

Menanggapi polemik tersebut, Lambok Situmeang turut menyampaikan pandangannya. Menurutnya, perbedaan busana Wakil Bupati pada peringatan HUT ke-23 Kabupaten Humbang Hasundutan dinilai kurang mencerminkan kekompakan unsur pimpinan daerah. Kamis, 30/07/2026.

Menurut Lambok, dalam acara seremonial resmi ketika Bupati mengajak Wakil Bupati untuk naik ke podium secara bersama-sama, perbedaan busana seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak ikut mendampingi.

“Apapun pakaian yang dikenakan, sebagai Wakil Bupati tetap memiliki tanggung jawab mendampingi Bupati dalam kegiatan resmi.

Kehadiran bersama di podium merupakan simbol kekompakan kepemimpinan daerah,” ujarnya.
Ia juga berpendapat bahwa seorang Wakil Bupati, terlepas dari latar belakang pendidikan, kondisi pribadi, maupun status sosialnya, diharapkan tetap menunjukkan loyalitas terhadap kepemimpinan daerah dalam menjalankan tugas pemerintahan.

“Sebagai seorang wakil, sebanyak apa pun hartanya, setinggi apa pun pendidikannya, atau apa pun kondisi pribadinya, tetap harus loyal terhadap pimpinannya. Menurut saya, itulah sikap seorang negarawan,” kata Lambok.

Menurutnya, masyarakat lebih berharap melihat keteladanan melalui tindakan nyata daripada sekadar pernyataan.

Sementara itu, warga lainnya juga menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, ajakan agar penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya sebatas lip service, mengesampingkan ego sektoral, serta memperkuat semangat gotong royong merupakan pesan yang baik.

Namun, sebagai seorang Wakil Bupati, keteladanan juga diharapkan tercermin dalam sikap, etika, disiplin, dan kepatuhan terhadap tata tertib pada setiap kegiatan resmi pemerintah.

Warga tersebut menilai bahwa dalam acara seremonial resmi seperti peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten, Wakil Bupati merupakan bagian dari unsur pimpinan daerah yang mendampingi Bupati.

Oleh karena itu, kekompakan dan keseragaman dalam mengikuti tata acara dinilai memiliki makna simbolis bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti pengakuan Wakil Bupati yang mengalami saltum dan tidak mengikuti salah satu prosesi.

Menurutnya, perbedaan busana tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak tampil bersama dalam rangkaian acara resmi.

“Yang kami harapkan adalah kekompakan antara Bupati dan Wakil Bupati agar mampu memberikan teladan serta menjaga marwah pemerintah daerah di hadapan masyarakat,” ujarnya.

Facebook Comments Box

Penulis : KB-061

Editor : Priyatna

Berita Terkait

Miris !!! Jalan Desa Durian Sei Balai Rusak dan Becek, Sambut Kedatangan Menko Pangan Zulkifli Hasan
Tanggul Waduk Perkebunan Jebol, Belasan Rumah di Batu Bara Terendam Banjir Setinggi 1,5 Meter
Seram !!! Kabel Listrik Semrawut di Kantor DPRD Kabupaten Toba
Kalapas Cibinong dan Empat Pejabat Dinonaktifkan, Dugaan “Klaster Mewah” Napi Masuk Pemeriksaan Internal ‎
Terima Aspirasi Buruh KSBSI, Wagub Reny Dorong Mediasi dengan PT NNI
KADES KOTO JAYO DIDUGA JADI PEMAIN PETI, ALAT BERAT RHINO KUPAS TANAH TAK BERTUAN SELUAS 1 HEKTARE
Bogor Memanas! 300 Massa PPAK Siap Geruduk Istana Bogor dan Tol Baranangsiang Terancam Ditutup ‎
Sopir Angkot Bogor Demo, Tolak Perda dan Perwali yang Dinilai Bikin Sengsara ‎
Berita ini 19 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:58 WIB

Miris !!! Jalan Desa Durian Sei Balai Rusak dan Becek, Sambut Kedatangan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Tanggul Waduk Perkebunan Jebol, Belasan Rumah di Batu Bara Terendam Banjir Setinggi 1,5 Meter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:22 WIB

Seram !!! Kabel Listrik Semrawut di Kantor DPRD Kabupaten Toba

Sabtu, 26 September 2026 - 20:28 WIB

Kalapas Cibinong dan Empat Pejabat Dinonaktifkan, Dugaan “Klaster Mewah” Napi Masuk Pemeriksaan Internal ‎

Senin, 21 September 2026 - 23:47 WIB

Terima Aspirasi Buruh KSBSI, Wagub Reny Dorong Mediasi dengan PT NNI

Berita Terbaru

Pemerintahan

Sekdakab Tapteng Tutup Lomba Bertutur Tingkat SD/MI

Kamis, 29 Okt 2026 - 21:38 WIB

Pemerintahan

Bupati Humbahas Bahas Hibah Aset Tanah dan Relokasi Kantor KPU

Kamis, 29 Okt 2026 - 17:19 WIB